Posted by: Syam Jr on: April 4, 2009
Apa persaman dari ber-politik dengan ber-poligami? Mendadak pertanyaan seperti ini menggelayut dibenak saya dan saya tidak siap menjawabnya. Saya kira andapun masih nyari nyari jawabannya. Tetapi saya coba juga menjawabnya sendiri dengan bertanya kepada teman teman.
Politik dan poligami persamaannya adalah cenderung tak terhindarkan untuk berbohong, Begini katanya menjelaskan, jika anda suatu saat ditanya oleh isteri pertama : “apakah sampeyan masih merasa berbahagia bersama saya?” Nah..andapun mulai mencari kata kata manis aduhai yang gombal..even harus berbohong.
Demikian pula politisi jika suatu ketika ditanya oleh rakyat konstituennya, apakah anda memang tulus ikhlas mendahulukan kepentingan masyarakat ketimbang kepentingan pribadi? Andapun akan mulai berfikir untuk menjawab secara diplomatis, memilih kata kata manis merayu dan berjanji..meski harus berbohong.
Pada pandangan umum tradisional, politik itu sama dengan kotor. Politik itu kotor, stigma yang melekat di jidat. Pandangan seperti ini merata dikalangan rakyat jelata. Tidak ada kawan abadi dalam politik dimaknai sebagai kecenderungan berkhianat, tidak setia kepada teman, menggunting dalam lipatan, menohok dari belakang, menghujat teman seiring. Seperti sekarang lagi siap tempur menjelang pemilu legislative..siap dengan suap…serangan fajar. Stigma semacam ini dari dulu sampai sekarang masih melekat dibenak mayoritas rakyat.
Mendengar argumentasi teman yang berapi api ini saya jadi bertanya, apakah argumentasinya memang benar benar atau cuma karena teman saya ini tidak lagi maju untuk Pileg 2009?
Dari berbagai hasil survey diungkapkan bahwa untuk Pileg 2009 pada 9 April nanti, partai politik berbasis agama akan mengalami kekalahan dibanding partai nasionalis. Sekarang sedang ramai diperdebatkan apalagi nanti setelah hasil Pileg 2009 partai berbasis agama benar benar merosot perolehannya dibanding Pileg 2004. Akan dicari argumentasi dan apa penyebabnya.
Untuk sementara mungkin ada argumentasi sederhana. Agama adalah pembimbing moral, pemimpinnya figure yang bersih tempat bertanya rakyat jelata. Peranannya dibutuhkan rakyat sebagai guru pembimbing moral bangsa.
Politik identik dengan hal kotor masih menjadi stigma. Jangan sampai jadi semakin melekat di jidat karena keseleo lidah ketika berorasi……
Pilihlah partai saya, ini benar benar bersih karena dicuci dua kali sehari…maaf… kepleset…. terbawa bawa kebiasaan poligami…-:)
betul sekali saya setuju sekali artikel anda !!!
uang tetep yang berbicara, banyak yang dibayar buat memilih semoga bangsa ini cepat sadar
April 5, 2009 pada 12:52 am
Maklum, cara berpikir para politikus belum merdeka. Mereka masih terbelenggu dengan masa lalu. Era devide et impera telah usai. Salam.
@Sugiatno, salam kembali, terima kasih telah burkunjung dan komentarnya. Semoga kita semua dipelihara dan dilindungi dari berbohong dan berbuat tercela lainnya, amiin (syamjr)