SyamJr’s WebBlog

Dari Munas Golkar Hingga Kemelut Emosi Geopolitik.

Posted by: Syam Jr on: Oktober 10, 2009

Barusan saya membaca dua artikel menarik di publikblog kompasiana. Satu artkel ditulis oleh bloger kondang Prayitno Ramelan dengan judul “Golkar Bangkit dan Ical Bersiap Untuk 2014”.  Artikel menarik yang satunya lagi berjudul “Momentum G20” press release Ketua Global Nexus Intitute, Christianto Wibisono.

Baca entri selengkapnya »

Mengapa ITB nyaris selalu pada lini “oposisi”.

Posted by: Syam Jr on: Oktober 3, 2009

Mengapa ITB nyaris selalu pada lini “oposisi” dan IPB berada dalam pemerintahan. Benarkah demikian? Sabar, tunggu dan akan jelas setelah Presiden SBY melantik  Kabinet Indonesia Bersatu II. Prediksi saya, UGM akan mendominasi jabatan menteri  KIB II.  Dinamika kehidupan kampus masing masing akan menjadi tifa perilaku politik figurenya  pada institusi negara dimana dia berkiprah. Figur yang mengemban tangung jawab jabatan public mempunyai ikatan moral dan emosional dengan almamaternya.

Baca entri selengkapnya »

Priiit….

Posted by: Syam Jr on: Juli 19, 2009

Dari beberapa posting maupun atikel di berbagai media cetak terdapat opini yang mengajak kita untuk tidak terjebak pada “filosofi” manang kalah dalam konteks penerimaan terhadap hasil hasil pemilu 2009. Saya sependapat bahwa kita sebagai bangsa hendaknya tidak terjebak pada isu menang kalah tersebut. Tidak terjebak pada perdebatan semu kontra produktif.  Sukses pemilu adalah sukses bangsa ini menjalankan kehidupan demokrasinya. Baca entri selengkapnya »

Mydas

Posted by: Syam Jr on: Juli 3, 2009

Ketika kita mencoba menjawab mengapa Mydas dalam mythology Yunani mendekat ke pusat kekuasasaan yaitu para dewa, ternyata keinginnya adalah agar dia mendapat kekuasaan untuk mengubah apa yang disentuhnya bisa berubah menjadi emas. Ketika kekuasaan itu didapatkan maka hasilnya adalah tragedy, roti dan anggur yang disentuhnya seketika berubah menjadi emas dan Mydas tewas karena kelaparan.

Dalam belantara politik, tokoh bin tokoh berupaya keras untuk merapat ke pusat kekuasaan. Pada musim pesta demokrasi seperti saat ini, espektasi membuat pilihan pilihan dimanakah gerangan pusat kekuasan itu berwujud. Berbagai cara ditempuh, berkata dan berlaku santun, halus, bahkan bisa kasar, hitam, merah biru lengkap dengan berbagai trik dan muslihat.

Kata disusun, argumen dibuat, data disanding, keputusan sudah bulat bahwa kekuasaan bisa didapat dari yang namanya presiden. Menjelang pilpres 2009 berbagai cara kampanye dilakukan yang menurut teorinya termasuk apa yang disebut sebagai bandwagon effect untuk memenangkan pemilihan dalam satu putaran. Angka angka menjadi data penting penciptaan informasi kearah mana rakyat hendak digiring.

Tanpa bermaksud menganalogikan Mydas dalam mythology Yunani dengan lembaga survey di Indonesia, tetapi sentuhannya pada angka angka dapat berubah menjadi “emas” dan menghasilkan bayaran tinggi mencapai 1,5 milyar rupiah apapun alasannya. Apakah bayarannya dalam bentuk bergepok uang merah gres dan wangi atau kebagian kekuasaan berupa jabatan yang diimpikan, kerja harus tuntas.

Semuanya menjadi sah sah saja dan nampak wajar atas nama kepentingan bagi mereka yang sedang mendekat ke pusat kekuasaan. Bahkan angka 70% estimasi kemenangan dilansir ke public sebagai nisbat karena diperoleh berdasarkan survey dengan metoda saintifik. Entahlah, apakah angka angka itu hasil sentuhan sebagaimana Mydas menyetuh anggur dan roti?

Berhembus nafas wangi dari Jombang, Jawa Timur yang mengingatkan tentang keyakinan akan takdir, qodha dan qadar. Info yang dilansir mengenai estimasi kemenangan 70% dianggap sebagai perilaku mendahului takdir serta sikap sekuler yang berarti bersalahan dengan keyakinan tradisional sebagaimana dianut ahlusunnah wal jamaah di Jawa Timur umumnya.

Bathin bertemu bathin membuka khasanah untuk melihat pedoman, berdoa memohon petunjuk agar ummat terayomi dengan tindakan bijak. Keputusanpun diambil yaitu membimbing ummat untuk memilih seorang mukhtasyar nadhiyin sebagai pemimpin periode mendatang. Tangan akan bergerak memilih siapa yang ada dihati dimana rahasia keajaiban disimpan.

SBY dan Budiono Berbeda Pandangan Mengenai Privatisasi.

Posted by: Syam Jr on: Juni 24, 2009

Terdapat pandangan yang berbeda antara SBY dengan Budiono mengenai privatisasi. Suatu isu ekonomi yang ramai diperdebatkan oleh para pendukung masing masing capres/cawapres dikaitkan dengan apa yang disebut dengan neolib versus ekonomi kerakyatan. SBY bersikap konservatif dan hati hati, sehingga pemerintah tidak akan melakukan privatisasi dan tidak akan menjual asset Negara. Sementara Budiono bersikap progresif dengan argumentasi yang mendukung privatisasi BUMN secara selektif. Perbedaan pandangan bukan hal yang luar biasa berkaitan dengan latar belakang pertimbangan untuk mengambil keputusan kebijaksanaan dalam pemerintahan modern. Namun dalam kondisi musim kampanye Pilpres 2009 perbedaan pandangan tersebut bisa menimbulkan implikasi politis bagi masyarakat untuk menentukan pilihannya.

Sebagaimana disiarkan KOMPAS.com - Pemerintah memastikan tidak akan melakukan privatisasi dan penjualan aset pemerintah termasuk juga BUMN untuk menutup defisit APBN 2010. Pemerintah lebih memilih untuk menambah utang baik dalam maupun luar negeri untuk menutup defisit sebesar 1,3 persen PDB. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan bahwa pemerintah akan sangat hati-hati dan konservatif dalam menentukan anggaran dalam APBN 2010 nanti. Ia menambahkan, selain utang sumber pembiayaan masih akan mengandalkan dari penerimaan perpajakan, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan penerbitan obligasi. “Presiden menekankan, kita tidak akan melakukan privatisasi dan menjual aset negara,” tegas Paskah, kemarin……”

Pada kesempatan terpisah di Bandung, Cawapres Budiono mengungkapkan, “Ke depannya, privatisasi BUMN harus ditujukan untuk membentuk tata kelola pemerintahan yang baik, yang pada akhirnya dapat menguntungkan rakyat Indonesia,” ujar Boediono dalam diskusi perbankan syariah, Jumat (19/6) di RM Panyawangan, Bandung. Dengan demikian, hingga periode waktu tertentu, pengelolaan BUMN dengan mengombinasikan peran swasta dan pemerintah masih harus dimungkinkan. “Jika BUMN go public, atau memiliki strategic partner, segala aktivitas BUMN menjadi dapat diteropong sehingga terbangun transparansi dan tata kelola yang efektif dan efisien,” ujarnya.”….

Sementara itu dipastikan bahwa pemerintah melalui Kementerian BUMN akan melanjutkan program privatisasi terhadap 30 BUMN pada tahun 2009 yang sebagian besar merupakan pengalihan dari tahun 2008. “Tahun lalu (2008) karena kondisi pasar tidak memungkinkan, maka ada sejumlah BUMN restrukturisasinya carry over (dialihkan) ke tahun depan,” kata Deputi Menneg BUMN Bidang Privatisasi dan Restrukturisasi, M Yasin, seusai  “Excecutive Briefing: A Regional Perspective in The Economic Crisis”, di Jakarta, Selasa (30/12).

Yasin menjelaskan, seharusnya jumlah yang harus diprivatisasi pada 2009 mencapai 44 perusahaan, tetapi karena sejumlah pertimbangan dan situasi ekonomi yang belum pasti maka kemungkinan hanya 30 perusahaan. “Dari 30 perusahaan umumnya skema privatisasinya dilakukan melalui IPO (Initial Public Offering), kecuali perusahaan yang kepemilikan saham pemerintah di dalamnya hanya kecil atau minoritas,” ujarnya. Sikap SBY sebagaimana diungkapkan Paskah Suzzeta, untuk tidak melakukan privatisasi dan menjual asset Negara nampaknya lebih pada tataran ideal, suatu statemen politik dalam nuansa kampanye pilpres dalam hal mana privatisasi dikonter lawan politiknya sebagai ciri neolib. Sementara Budiono yang saat ini bukan “orang pemerintah” karena baru calon wapres, lebih pada realitas empiris dalam hal mana berkaitan dengan kebutuhan pragmatis mengatasi keadaan perekonomian Negara.

Meskipun pernyataan Budiono bersifat perspektif jika terpilih sebagai wapres, tanpa analisa sekalipun maka dapat disimpulkan bahwa yang akan berjalan adalah argumentasi Budiono. Realitas pasar yang membentuk kondisi perekonomian negara akan mengalahkan visi idealis mempunyai analogi sederhana misalnya; bagaiamana  seseorang tidak berutang jika realitasnya memang tidak punya duit sedangkan barang belum laku dijual sementara kebutuhan aktual mendesak. Jadi jika misalnya Budiono adalah “real vice president” maka kayaknya akan terlihat standar ganda dalam menyikapi permasalahan bangsa. Sikap politik SBY pada tataran ideal tidak dijalankan pada tataran operasional.

Hal inikah yang terjadi pada duet SBY-JK? Apakah hal seperti ini akan terulang?  Sekalipun tidak yakin bahwa Budiono akan lebeih “berani” didanding JK, tapi sebagai ekonom  argumentasinya akan dapat mempengaruhi keputusan akhir.

Saya hanya berharap privatisasi tidak dilakukan tergadap BUMN sector industri strategis kalau perusahaan semacam itu masih ada, siapapun presidennya.

Kakek dari kakek punya kakek buyut.

Posted by: Syam Jr on: Juni 6, 2009

Datuk Indon sakti Indra Batara

gelar panglima angin delapan lintang

pasak tanjung peninsula

penguasa oksigen alam maya

kalau membisu angin berhenti

menoleh gunung bergeser

menghembus laut berbuncah

hempaskan busa disela karang

bila tersenyum menghantar jiwa diserbuk sari maka bunga menjadi buah

santapan princes anjani

Tag:

Pak JK peringkat pertama disusul mbak Mega

Posted by: Syam Jr on: Mei 24, 2009

Kadin hebat ketika menyelenggarakan acara penyampaian visi dan misi tiga calon presiden pada tayangan tiviwan minggu lalu. Hebatnya dimana? Acara berlangsung dengan blokking arena tapal kuda, capres berbicara ditengah arena kayak pemain teater sehinga gagasan yang disampaikan “murni” dari memory sang capres. Model arena tapal kuda ini tentu punya maksud untuk mengukur kemampuan memori , untuk mengganti istilah kehandalan seorang capres. Capres harus tampil tanpa teks. Kalau bicara di podium akan dapat menggunakan teleprompter untuk jaim, tampil gaya seolah olah tanpa teks.

Pak SBY tampil mempesona, sangat  terlihat berwibawa sehingga ketika akan masuk arena sudah mendapatkan standing applause, sambutan tepuk tangan lebih lama dibanding dua capres lannya. Standing applause lantas membentuk nuansa bahwa SBY “diatas angin”, sehingga kemudian terbawa pada perasaan berada pada posisi lebih tinggi dari yang lain. Lalu garis bawah pembicaraan beliau porsinya lebih kepada menjelaskan atau tepatnya membantah prasangka berkembang bahwa SBY-Budiono adalah penganut ekonomi neo liberalis. Pihak lain tidak paham apa itu neolib dan harus diberi penjelasan. Ungkapan “they don’t understand” membekas diingatan. Namun dikalangan masyarakat awam ungkapan seperti itu hanya menyisakan tanda tanya saja.

Nah. Ternyata arena tapal kuda di Shangrila Hotel – Jakarta itu “makan korban” juga.  Ketika dalam penyampaian visi misi itu SBY mengawalinya dengan mengatakan bahwa dia mempunyai prinsip “empat tidak”, Sayang, beliau hanya dapat menyebutkan “tiga tidak” saja karena “satu tidak”nya nggak muncul ketika diperlukan alias lupa. Mengapa dia lupa? Namanya saja lupa, jadi nggak usah ditanyakan mengapa. Kalaupun  ditanyakan saya yakin “They  don’t understand”.

Ketika menyampaikan visi misi ekonominya mbak Megawati tampil penuh percaya diri, mbak Mega sangat terbantu oleh presenter tiviwan yang membuka kata dengan “pujian”  bahwa beliau adalah capres paling cantik. Tagline paling cantik memang  seaslinya dari beliau. Sehingga waktu tagline diungkapkan kembali oleh presenter, membuat mbak Mega tertawa lepas, hadirin semua juga tertawa. Jadi telah ada sambung rasa antara mbak Mega dengan audiens  yang tokoh tokoh pengusaha anggota Kamar Dagang dan Industri Indonesia itu.

Itulah yang melepaskan “tekanan”  emosi  beliau sehingga tampil pede banget. Meski pede tetap saja kena. Ketika beliau mencoba menjawab satu pertanyaan dan meluncurlah kata kata ”..boleh yaa minta bantuan…”. Nah ungkapan seperti itu member kesan bahwa  beliau tidak menguasasi apa yang dipertanyakan peserta. Demikian pula sepanjang penyampaian visi misi, beliau beberapa kali mengulang pernyataan bahwa pertanyaan peserta “sulit”. Kalau “sulit” dilontarkan sesekali saja,  mungkin dapt dimaklumi sebagai satu gaya improvisasi ataupun cara rendah hati mengapresiasi pertanyaan, tetapi jika dilakukan berulang ulang “sulit” artinya yang di memory mbak Mega memang sulit itulah adanya. Mengurangi poin.

Tentu saja pak JK luput dari “jebakan” arena tapal kuda ini. Lihatlah, acara diselenggarakan oleh Kadin Indonesia, disana  pak JK tentu lebih familiar. Tampil dengan cepat dan lancar dalam menjawab setiap pertanyaan tanpa keraguan sedikitpun, sehingga “pertunjukan” sangat bisa dinikmati. Terutama ketika dia ditanya tentang produk dalam negeri. Mencintai produk dalam negeri penting. Harus satu kata dengan pebuatan, ucapnya.  JK mencontohkan dirinya memakai sepatu produk dalam negeri. Aksinya  mencopot sepatu menunjukan produk Cibaduyut yang dipakainya, seluruh pemirsa tentu merasa terhibur denga sikap kesederhanaan beliau. Tapi bukan itu poinnya. Pak JK tampil prima pada acara penyampaian visi misi itu karena berada dilingkungan pengusaha, beliau tampil seperti  di rumah sendiri.

Dari visi misi ketiga capres nampaknya tidak jauh berbeda, semuanya  membangun bangsa demi kesejahteraan rakyat. Sebagaimana dikemukakan mbak Mega bahwa dia mencatat pembicaraan  dua pesaing  sebelumnya. Namun mbak mega lebih menegaskan tentang  amanah konstitusi, UUD 1945 sebagai landasan membangun bangsa yang berdaulat, mandiri dan menjalankan ekonomi kerakyatan berdasarkan budaya sendiri. Kebijakan pro rakyat tanpa meminggirkan pengusaha. Apakah ini maknanya dikotomis rakyat versus pengusaha?

JK tampil dengan visi : Kemandirian Ekonomi Nusantara,  misi bersama mensejahterakan rakyat secara lebih cepat dan lebih baik, sepertinya JK ingin hadir membawa misi yang lebih nasionalis. Baik mbak Mega maupun Pak JK memandang perlu campur tangan Negara untuk mengatur ekonomi demi mencapai kesejahteraan rakyat. Sementara SBY dianggap lebih membiarkan perkembangan ekonomi dengan orietasi global pasar bebas yang diistilahkan sebagai neo liberalis.

Padahal Pak SBY merasa tidak demikian, dalam hal mana beliau menepis prasangka tersebut dengan mengatakan bahwa mereka tidak mengerti,”they don’t understand”. ucapnya. Entah yang digolongkan sebagai “mereka” itu termasuk saya? Pastinya tentu para pesaing pada pilpres Juli 2009, tukang kritik dan lawan politik lainnya. Bahkan pak SBY sempat mengatakan bahwa sebagai incumbent dijadikan musuh bersama. Sempat sempatnya menempatkan diri sebagai musuh bersama, suatu upaya pencitraan membentuk opini publik bahwa pihaknya telah didzalimi. Sekarang yang seperti itu tidak model lagi, banter dalam hati orang bilang… kasian deh lu.

Kalam penutup. Namun harus ada kesimpulan apa pendapat terhadap tampilan dari tiga capres yang telah menyampaikan visi misi pada acara Presiden Pilihanku oleh Kadin Indonesia dan tiviwan minggu lalu. Menurut saya. Peringkat pertama pak JK, peringkat kedua mabak Mega disusul pak SBY peringkat ketiga.

Catatan penanda: Menggunakan bahasa asing dalam konteks pergulatan politik nasional dikhawatirkan berakibat melekatkan karakter asing pada sosok seorang pemimpin dimata rakyatnya. Kalau keterusan, lama lama iso dadi londo ireng… :) ( Syam Jr )

Otokritik Budiono

Posted by: Syam Jr on: Mei 16, 2009

Prof. Boediono dalam pidato pengukuhannya sebagai cawapres dari Partai Demokrat mendampingi capres Soesilo Bambang Yudhoyono, menyatakan otokritik yang mengingatkan dirinya sendiri. Dia menyatakan, Indonesia membutuhkan pemimpinan yang tidak dikotori oleh suap, tidak mau memperdagangkan kekuasaan. “Tidak mencampuradukkan kepentingan negara dengan kepentingan bisnis keluarga,” ujar Boediono di depan ribuan orang yang hadir sebagaimana siaran langsung televisi dari Gedung Sabuga, Bandung Jum’at  malam.

Kenapa otokritik? Jika bukan otokritik maka pernyataan itu dapat ditanggap sebagai serangan kepada pihak pesaing lainnya baik JK-WIN maupun Mega-Prabowo dalam rangka pilpres Juli 2009. Sementara sebelumnya SBY sendiri telah memperingatkan agar tidak takabur dan menjelekkan pihak lain. Pernyataan Boediono tidak menggambarkan esensi jargon politik “SBY-Berbudi”  yang dipublikasikan pada saat yang sama.

Mungkin saja pernyataan itu memperingatkan jajaran “tim sukses” sendiri untuk tidak mencampur aduk antara kepentingan negara dengan kepentingan bisnis keluarga besar Partai Demokrat dan koalisinya, mengingat posisi SBY yang incumbent. Ungkapannya “Indonesia membutuhkan pemimpinan yang tidak dikotori oleh suap, tidak mau memperdagangkan kekuasaan”  mungkin saja sebagai penyataan “bersayap” Budiono,  karena sebelumnya sejumlah partai koalisi berupaya maikan posisi tawar untuk mendapatkan posisi cawapres bahkan hingga the last minutes.

Budiono yang berbicara dengan gaya professor didepan mahasiswanya, nampak agak terpengaruh oleh “glamour” acara deklarasi capres Partai Demokrat dan koalisinya. Dia nampaknya tampil over confident seolah olah sudah menjadi Wapres sehingga lepas konteks acara deklarasi. Budiono dalam sambutannya itu dua kali “terpleset” menyebut Presiden SBY dan lupa memposisikan SBY secagai capres untuk pilpres Juli 2009.

Partai Demokrat pada final perhitungan suara KPU mendapatkan 148 kursi DPR. Kompas.com memberitakan, Partai Demokrat sebagai “Raja” baru Parlemen dengan perolehan sebanyak 21.704.805 suara atai 20,85% dari total suara sah 104.099.785. Kemungkinan keuntungan khusus itu diperoleh dari BPP dari dapil daerah daerah dengan satuan bilangan pembagi pemilih (BPP) yang rendah karena jumlah penduduk sedikit namun mempunyai wilayah luas.

Partai Golkar memperoleh 15.037.757 suara (14,45 persen)  mendapatkan 108 kursi DPR. Selisih 6.665.380 suara dengan Partai Demokrat mendapatkan 40 kursi DPR lebih banyak dari Partai Golkar. Sehingga perolehan kursi DPR untk Partai Demokrat mencapai 26,43% disusul Partai Golkar 19,29%.

( Notes : Terdapat kesalahan memasukan data sehinga posting ini harus saya revisi dan tabel saya hapus untuk tidak meneruskan kesalahan – Syam Jr )

Ada apresiasi gamang muncul ketika nama Budiono, Gubernur Bank Indonesia digadang gadang sebagai bakal cawapres SBY pada Pilpres 9 Juli 2009. Gamang tidak pada beliau yang profesional tetapi lebih kepada terminologi figur dari institusi Bank Indonesia. Jika memang betul sebagai bakal calon “jadi” untuk SBY, maka mungkin satu pemikiran berkembang bahwa SBY membutuhkan figure wakil yang mumpuni untuk melakukan “intervensi” terhadap bank sentral, manakala diperlukan. Apabila benar gagasannya seperti ini maka independensi Bank Indonesia dalam posisi terancam.

Independensi Bank Indonesia sebagai bank sentral harus tetap terjaga untuk tidak mengulangi kesalahan sejarah in the case of the  Javasche Bank. Sejarah mengajarkan agar jangan pernah ada niat untuk menempatkan Bank Indonesia sebagai institusi pemerintahan. Bank Indonesia harus tetap independent sebagai intitusi negara.

Pemerintahan Kerajaan Belanda melalui Konprensi Meja Bundar di Denhag (The Hague) pada 27 Desember 1949 berhasil memaksa politisi Indonesia untuk menerima De Javasche Bank sebagai bank sentral Republik Indonesia Serikat (RIS). Makna intinya, seluruh utang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, termasuk utang pembelian persenjataan kepada negara sekutu Belanda tidak dibebankan kepada Ratu Wilhelmina tetapi dibebankan kepada Indonesia sebagai prasyarat pengakuan kedaulatan. Charter of Transfer of  Sovereignty.

Konon pada tahun itu jumlah utang yang harus menjadi beban bangsa ini mencapai 4,3 milyar Gulden. Seluruh kerajaan di Nusantara yang mengikatkan diri pada RIS memberikan jaminan kolateralnya atas “utang” tersebut sebagai konsekuensi logis menyetujui isi dokumen hasil Konprensi Meja Bundar (KMB). Apakah jaminan kolateral itu memang likuid…wallahu’alam. Yang pasti isue ini kemudian berkembang menjadi rumor seputar “Harta Karun Bung Karno”.

Akankah dalam lima tahun kedepan republic ini mengejar harta karun tersebut. Fragmen diatas saya tampilkan untuk meraba atau katakanlah membaca pikiran mengenai gagasan menempatkan figure yang mumpuni seperti Budiono sebagai bakal cawapres. Langkah mengumpulkan raja raja nusantara di istana minus Sri Sultan Hamengkubuwono X beberapa bulan yang lalu, tidak dapat dinafikan begitu saja.

Terlepas dari semua “khayalan” tentang kasus the Javasche Bank dalam konteks KMB Denhag. Persetujuan terhadap hasil konprensi meja bundar pada dasarnya tidak dapat di ratifikasi karena bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945. Amanah konstitusi adalah membentuk Bank Indonesia dengan Undang Undang, tidak melalui dokumen KMB. Eksistensi de Javasche Bank sebagai bank sentral memang tidak pada UUD 1945 tetapi UUD RIS.

Bank Indonesia kemudian telah dibentuk sesuai dengan amanah konstitusi, amanah UUD 1945. Tetapi bagaimana dengan “utang” de Javasche Bank yang konon telah lunas pada 2003?  Misteri nampaknya masih tersimpan di Bank Indonesia termasuk masalah “jaminan kolateralnya” itu tadi. Apakah jaminan tersebut sudah dicairkan atau belum? Siapa yang terima, kapan? etc etc……Atau memang asli tidak ada alias nihil, artinya betul betul khayalan para pemburu “harta karun Bung Karno”?

Demikian pula dengan kedaulatan negara Republik Indonesia yang diakui oleh Kerajaan Belanda yaitu pada 27 Desember 1949 sementara seluruh rakyat Indonesia menyatakan kedaulatannya sejak 17 Agustus 1945. Diakui ataupun tidak diakui oleh masyarakat internasional,  bangsa Indonesia tetap memiliki kedaulatan negaranya. Pengakuan internasional berupa penyerahan kedaulatan melalui KMB hanya memberikan advantage kepada negara kreditor untuk menagih “warisan utang” kolonial Belanda kepada bangsa ini.

Independensi Bank Indonesia sebagai bank sentral harus tetap terjaga untuk tidak mengulangi kesalahan sejarah in the case of the Javasche Bank. Tolong jangan pernah ada niat untuk menempatkan Bank Indonesia sebagai institusi pemerintahan. Bank Indonesia harus tetap independent sebagai intitusi negara.

Pengantar

Blog ini dibuat pada 15 Maret 2008 untuk menuliskan fikiran dan pandangan guna memahami orang lain melalui feed back atau tanggapan atas pemikiran yang tertulis, terutama pemikiran dari generasi muda yang sedang memainkan perannya diatas lantai kehidupan berbangsa di republik ini. About Me

Since March 15, 2008.

  • 16,602 hits

Pagerank Checker

Page Rank Check
Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Country Visitors

Blogpedia

THE BOBs

Visitors Map

Blog Indonesia

Blogger Indonesia

Technocrati Favorites

RSS KOMPAS.com – Sains

Arsip

Syam Jr

 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

SyamJr on Twitter