SyamJr's WebBlog

Loyalitas sebagai fatsun politik.

Posted on: Juli 7, 2008

Inilah ungkapan John Fitzgerald Kennedy, tokoh legendaris Amerika Serikat, bahwa ”loyalitas saya kepada partai berakhir manakala pengabdianku kepada negara dimulai”. Barangkali ungkapan tersebut diucapkan pada pidato kampanye atau pada saat dia diangkat sebagai presiden. Suatu pernyataan yang merupakan komitmen kepada seluruh rakyat Amerika. Sebuah penegasan bahwa kebijakan yang akan dilakukannya adalah untuk seluruh rakyat dan bukan hanya untuk sebagian pemilih saja, alih alih untuk kepentingan partai sendiri yang mengusungnya sebagai kandidat presiden.
Setiap warga negara bebas untuk menyatakan pandangan dan pendapatnya tetapi tidak dapat diartikan sebagai mewakili pandangan dan pendapat publik meski disampaikan melalui demo besar besaran. Aspirasi yang disampaikan anggota senat maupun kongres terikat fatsun politik dan nilai apakah argmentasinya mampu mengungguli argumentasi pemerintah. Sistem demokrasi menempatkan pandangan dan kebijakan presiden merupakan representasi kepentingan seluruh rakyat.

Prinsip winner for all dalam sistem pemilihan langsung di Amerika Serikat maka seorang kandidat presiden yang memenangkan pemilu difahami sebagai pemegang mandat seluruh rakyat, tidak dipengaruhi oleh berapa persen mayoritas kemenangan diperoleh. Hal ini menjadi fatsun politik, termasuk bagi anggota senat maupun kongres yang menjadi representasi partai partai. Inilah korelasi penyataan JFK diatas.



Dengan demikian implementasinya dalam perilaku politik terhadap kebijakan presiden yang dianggap menyimpang, batasannya adalah bahwa setiap pernyataan seorang politisi akan dinilai tidak etis jika dia mencoba menggiring opini publik untuk mencitrakan figur presiden sebagai musuh bersama common enemy. Karena presiden terpilih adalah figur yang disepakati atasnama demokrasi sebagai pemegang mandat seluruh rakyat.

Pemahaman seperti itu merupakan kesadaran umum dan tidak terbatas pada kalangan anggota de-pe-er, anggota kongres atau pengurus partai saja. Etika dalam berpolitik sepatutnya sangat terjaga, sebab jika etika dilanggar maka konsekuensinya politisi yang bersangkutan kehilangan nilai jualnya, tidak akan dipilih oleh rakyat. Apakah kesadaran semacam itu telah tumbuh di Indonesia. Dibutuhkan waktu yang lama dan proses pendidikan politik yang baik.

Ketika SBY-JK terpilih dan kemudian membentuk Kabinet Indonesia Bersatu, dalam prosesnya terdapat rekruitmen beberapa figur diluar Partai Demokrat untuk duduk didalam kabinet dalam upaya memperoleh dukungan parlemen sehingga kabinet yang dibentuk populer dengan istilah koalisi pelangi. Dengan masuknya figur dari partai lain mereka merupakan bagian dari pemegang mandat rakyat untuk menjalankan pemerintahan.

Tetapi manakala muncul pertanyaan, mengapa koalisi pelangi dilakukan? Jawabannya adalah karena posisi Partai demokrat hanya mengantongi 9% suara saja di parlemen. Jawaban ini menunjukan tidak adanya fatsun politik sebagaimana di Amerika Serikat. Suatu tafsiran seolah olah menggambarkan bahwa presiden terpilih hanya representasi Partai Demokrat yang cuma 9% saja. Pemahaman seperti itu lebih terlihat ketika ada upaya keras untuk menempatkan JK merebut Ketua Umum Golkar pada Munas Bali. Sejatinya dapat dipahami bahwa SBY-JK sebagai pemenang pemilu langsung adalah representasi seluruh rakyat Indonesia, winner for all, tidak sebagai minority bargainning.

Jadi dari awalnya terdapat kekhawatiran, untuk tidak menyebutya sebagai ketergantungan terhadap parlemen yang nuansanya tidak membentuk stabilitas dalam kehidupan bernegara. Mungkin situasi yang sama berproses di Amerika pada masa itu. Tetapi Presiden John F Kennedy dengan penuh percaya diri menjawab dengan lantang, “My loyalty to my party ends when my loyalty to my country begins,”

1 Response to "Loyalitas sebagai fatsun politik."

Badai krisis financial tentu akan berlalu. PASTI, tidak ada negara di mana pun yang sepakat untuk bersama-sama mati semua seketika, maka secara alamiah akan muncul gerakan negara-negara bangsa untuk menyelamatkan sistem ekonomi gobal dengan segala modifikasinya.

Ada jg yang masih pesimistis denga mengatakan bhwa, memang mati bersama-sama tidak membutuhkan kesepakatan tapi sebuah kenyataan.

Namun, pendapat yang terakhir itu hanya cocok untuk mereka yang sudah terlalu banyak kerugiannya di financial market. Bagi yang masih punya masa depan, tentu akan berpendapat yang pertama.

@Takdir Ali Mukti
Assamu’alaikum Wr.Wb.
Terima kasih atas komentarnya. Tapi mungkin komentar ini kontekstual untuk posting dengan judul : Eh, Krismon datang lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengantar

Blog ini dibuat pada 15 Maret 2008 untuk menuliskan fikiran dan pandangan guna memahami orang lain melalui feed back atau tanggapan atas pemikiran yang tertulis, terutama pemikiran dari generasi muda yang sedang memainkan perannya diatas lantai kehidupan berbangsa di republik ini. About Me

Since March 15, 2008.

  • 190,888 hits

Pagerank Checker

Page Rank Check
Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Guest IP

IP

Visitors Map

Blog Indonesia

Blogger Indonesia

Current Moon

CURRENT MOON

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip

Syam Jr

Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d blogger menyukai ini: