SyamJr's WebBlog

Pak Djoko, Infrastruktur dan Wilayah Intim.

Posted on: Oktober 19, 2009

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan bahwa dia akan berfikir keras tentang infrastruktur dan bekerja sebaik mungkin. Berbagai pemberitaan pers belum menyebutkan pos jabatan mana secara spesifik namun diyakini beliau akan kembali memimpin Departemen Pekerjaan Umum. Ungkapan pendek, “berfikir keras dan bekerja sebaik baiknya” yang sempat disampaikan kepada pers usai “tes kesiapan bertugas” di Puri Cikeas Indah.

Meski demikian, pernyataan Pak Djoko terasa sangat pede bahwa pemikiran dan gagasan stategis beliau mampu mendukung jalannya pemerintahan KIB II 2009-2014 melaksanakan Undang Undang dari sisi pekerjaan umum.

Kesempatan kerja di perkebunan sawit

Kesempatan kerja di perkebunan sawit

Rawa monoton tantangan pembangunan infrastruktur

Rawa monoton tantangan pembangunan infrastruktur

Oke my bro, saya coba simak dari pernyataan pak menteri bahwa beliau ‘berfikir keras’ yang berarti terdapat tantangan permasalahan besar dan berat. Lantas kira kira apa permasalahannya? Menurut saya terdapat banyak sekali problem berkaitan dengan pembangunan infrastruktur. Dua diantara permasalahan itu adalah, pertama:

Kemauan politik pembangunan infrastruktur dengan demographic approach atau pendekatan yang adjustable dengan tingkat kepadatan penduduk suatu wilayah.

Masalah kedua adalah; Rendahnya tingkat kesadaran public akan betapa pentingnya membangun infrastrukrur.

Kemauan politik pembangunan infrastruktur dengan demographic approach berakibat terjadinya ketimpangan pembangunan infrastruktur antar wilayah. Alokasi dana APBN untuk membangun infrastruktur pada wilayah yang perpenduduk tipis akan sangat berbeda dengan wilayah yang berpenduduk padat. Sejak jaman pak Widjoyo Nitisastro pada era orde baru hingga orde reformasi sekarang, pembangunan infrastruktur memegang prinsip benefit and cost ratio. Pembangan infrastruktur nasional sejatinya menggunakan pendekatan potensi wilayah, potential approach.

Padahal realitas ekonomi nasional masih sangat bertumpu pada penggarapan sumber daya alam. Indonesia masih belum mencapai perkembangan industri hi -tech, semikonduktor ,mikrocip atau industri silicon, industri perkapalan maupun dirgantara yang mampu memberikan penghasilan besar. Bahkan penghasilan industri manufaktur dalam menyumbang APBN cuma pas pas-an karena sektor perdagangan yang fluktuatif. Sampai hari ini kita masih berharap TKW terus mengirimkan devisa. Kita masih bertumpu pada sector pertambangan berbagai sumber daya alam, sumber daya hutan.

Kawasan Indonesia Timur yang sangat membutuhkan perencanaan strategis pembangunan infrastruktur karena alamnya memiliki potensi ekonomi, namun tingkat kepadatan penduduk wilayah ini tipis. Konsekuensinya adalah, meski Departemen PU mendukung perencanaan pembangunannya,  namun akan terhambat alokasi dananya di APBN ketika masuk ke DPR.

Perbaikan dan pemeliharan jalan wilayah pantura di pulau Jawa yang setiap tahun membutuhkan dana besar demi kenyamanan pulang mudik lebaran akan lebih didukung ketimbang membangun seratus kilometer jalan baru di luar Jawa , karena apealnya lebih populis dan berdampak terhadap konstituen partai.

Pers akan hingar bingar jika pantura terlambat diperbaiki oleh PU, anggota DPR berteriak sebab mereka tidak mau konstituennya di wilayah padat , menilai wakil mereka di DPR  lelet terhadap perbaikan jalan di pantura. Mereka khawatir  tidak akan dipilih lagi pemilu depan.

Tetapi siapa yang peduli realitas hari ini, bahwa meskipun perkebunan kelapa sawit menciptakan jutaan kesempatan kerja , namun kenyataanya komoditi sawit terbeban ongkos pembangunan infrastrur kalau masih mau jualan. Perusahaan perkebunan diwajibkan membangun sendiri infrastrukturnya. Angkutan kelapa sawit bahkan dilarang untuk mengakses jalan public dan yang seperti ini justeru ditetapkan dengan Peraturan daerah (Perda).

Lebih ironis lagi, keberadaan sungai sebagai infrastruktur ekonomi dijadikan entitas bisnis agar pemda mendapat uang pungutan untuk PAD mereka. Inilah realitas empiris yang bertentangan dengan ilmu bahwa infrastruktur dibiayai oleh pertumbuhan ekonomi  melalui penerimaan Pajak Negara.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentu berkaitan dengan tingkat kesadaran public akan pentingnya membangun infrastruktur. Yang paling krusial adalah menyangkut ganti rugi lahan, masyarakat bertahan seperti benteng batu karena memang hanya tanah yang masih tersisa, akses lain mereka tidak bisa. Belum lagi masalah lain sepertinya mialnya yang berkaitan dengan pelepasan kawasan hutan, terbukanya akses yang berdampak lingkungan, arogansi sektoral sebagai efek samping  otonomi daerah, semuanya bukan masalah ringan. Pantesan beliau berfikir keras.

Tetapi jabatan menteri itu khan topmarkotop, apapun masalahnya mesti ada jalan keluar. Nah sekarang manakala misalnya saking kerasnya beliau berfikir tiba tiba pak Djoko menyatakan pengen mundur aja, apakah masih ada yang mau menggantikannya ?

Enak aaja😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengantar

Blog ini dibuat pada 15 Maret 2008 untuk menuliskan fikiran dan pandangan guna memahami orang lain melalui feed back atau tanggapan atas pemikiran yang tertulis, terutama pemikiran dari generasi muda yang sedang memainkan perannya diatas lantai kehidupan berbangsa di republik ini. About Me

Since March 15, 2008.

  • 190,888 hits

Pagerank Checker

Page Rank Check
Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Guest IP

IP

Visitors Map

Blog Indonesia

Blogger Indonesia

Current Moon

CURRENT MOON

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip

Syam Jr

Oktober 2009
S S R K J S M
« Jul   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d blogger menyukai ini: