SyamJr's WebBlog

Lembu Bodong VI.

Posted on: Juni 20, 2015

Lembu Bodong VI.

Selikur artinya duapuluhsatu, malam ketujuh sejak purnama penuh. Prabayaksa berlayar perlahan mengikuti alur bawah laut atau underwater river channel di muara Sungai Barito dimana alur sungai berada dibawah permukaan laut. Ketika bulan purnama penuh, memang pasang laut atau tidal bore bisa mencapai plus 5,5 meter LWS.

Tapi sekarang keadaan laut lagi surut, hanya plus 0.40 meter LWS, setiap kapal wajib berhati hati mengikuti alur bawah laut sungai Barito. Kalau salah memahami alur dalam, pastilah kapal dukuk manis di atas gosong laut.

Nakhoda Patih Penimba Segara berdiri disamping juru mudi utama, memberikan perintah menentukan arah navigasi pelayaran dengan tujuan kembali ke Negeri Candi Laras.
Amang Ical duduk termenung di anjungan nakhoda, terlihat agak lusuh dengan rambutnya sedikit gondrong, meski dengan baju kuning padu dengan overcoat berwarna biru demokrat, bahannya kain bludru dari Smyrna, dia terlihat sangat capek. Dia sedang berfikir untuk memutuskan apakah jadi membeli tall ship Prabayaksa, perahu layar bertiang satu yang sekarang ditumpanginya.

Memang pengalaman kemarin ketika Prabayaksa diterpa badai hebat membuktikan ketangguhannya, perahu tidak pecah bahkan tiang layar tidak goyah sedikitpun.
Nakhoda utama Patih Penimba Segara mendekati Amang Ical dan mengajaknya ke ruang terbuka di geladak. Agaknya dia ingin berbicara rahasia empat mata.

“Amang nampaknya ragu tentang kapal ini, apakah Amang meragukan kehandalannya atau adakah masalah lain?”

Tidak….bukan tentang kehandalannya, Prabayaksa sudah lolos ujian berat ketika kandas dan diamuk badai tempo hari.

“Oke…barangkali Amang ragu tentang riwayat kepemilikan kapal ini. Kapal ini bukan milik kerajaan Negeri Candi Laras tetapi kapal warisan pribadi keluarga kami,” ujar Patih Panimba Segara.

“Prabayaksa dibangun dengan tangan kakek saya sendiri sebagai kapal ekspidisi untuk mencari dan menemukan tanah leluhur kami di Kutai Martadipura.”

Patih Panimba Segara menceriterakan bahwa kakeknya adalah pelaut ulung pada masa muda beliau dan menjadi saudagar kaya raya di Sriwijaya. Ketika pembangunan kapal selesai, Kerajaan Sriwijaya dalam situasi perang menghadapi serangan Khampala atau negeri Campa. Seluruh kapal termasuk milik pribadi warga yang ada di wilayah perairan kerajaan didaftarkan sebagai kekuatan armada Angkatan Laut Kerajaan Sriwijaya.

Kapal milik sang kakek masuk daftar, tercatat dengan nama Prabayaksa dibebani tugas utama melakukan evakuasi, penyelamatan keluarga kerajaan bila terjadi keadaan genting. Diberi nama Prabayaksa karena kapal itu bertugas menyelamatkan seluruh keluarga Mpu Adhyatman, pakar hukum, Jaksa Agung Kerajaan Sriwijaya. Prabayaksa artinya Jaksa Agung. Ayanda Patih Panimba Segara menuturkan bahwa sang kakek tewas dalam peperangan melawan Khampala. Namun seluruh keluarga Jaksa Agung selamat dari pembantaian oleh bala tentara Khampala.

Selanjutnya keluarga Panimba Segara masuk dalam jajaran keluarga Kerajaan Sriwijaya, namun sebagai pewaris Prabayaksa, ayahnya tidak pernah menghibahkannya kepada kerajaan Sriwijaya sampai dia meninggal dunia.

“Jadi sekarang saya adalah ahli waris dan pemilik sah kapal ini. Percayalah…saya mengatakan yang sebenarnya.”

Amang Ical mendengarkan dengan seksama seluruh penuturan Patih Panimba Segara. Dia personifikasi dirinya seperti sang kakek nakhoda. Sebagai saudagar kaya raya, pengalaman seperti itu mengajarkan bahwa gangguan terhadap stabilitas negeri merupakan ancaman. Bilamana terjadi keadaan peperangan maka seluruh harta benda pribadi tidak mustahil akan masuk otoritas kerajaan, mau tidak mau dia tidak punya pilihan.

Terlebih lagi jika kalah perang, kerajaan hancur, kekuasaan kerajaan jatuh tak berdaya, keadaan ekomoni dan stabilitas social kacau balau. Dan selalu ada saja yang dengan sombong, mengatakan demi rakyat lantas menghalalkan segala cara.

Sementara itu, penguasa baru belum tentu mampu bertindak adil dan bijaksana. Peperangan merupakan gerakan revolusi bersenjata, demikian juga serupa meski tak sama dengan gerakan reformasi. Gerakan politiknya mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk menjatuhkan pemerintah yang ada sekaligus membentuk pemerintahan baru. Namun tidak pernah bisa memberi jaminan tercapainya tujuan kehidupan bernegara yaitu kesejahteraan yang berkeadilan bagi seluruh rakyatnya.

Bagaimana, apakah anda masih ragu dengan apa yang saya ceriterakan berhubungan dengan riwayat pakal Prabayaksa.

“Iya iyalah masa iya donk….. saya percaya anda telah mengatakan yang sebenarnya tentang riwayat kapal ini.”

Tapi Amang Ical masih berfikir tentang issue yang pernah diperolehnya. Info dengan klasifikasi A bahwa Mahapatih Negeri Candi Laras akan menghadiahkan kapal Prabayaksa ini kepada Patih Pambalah Batung jika sukses dalam ekspidisi ke tanah Jawi. Jika misinya sukses meminta dan membawa Pangerah Tebupait, putera Maharaja Mayapait untuk dinikahkan dengan Puteri Laras Tunjung Sari.

Lembu Bodong VII

Sebagaimana biasa Patih Pambalah Batung selalu tampil jumawa, di depan public terkesan angkuh, acting ekspresif mencitrakan diri sebagai pejabat berwibawa. Tapi tak sanggup mempertahankan aktingnya ketika jumpa Amang Ical, dia langsung berubah. Dia sengaja mengundang Amang Ical untuk berbicara empat mata.

“Tuan adalah saudagar terpandang Negeri Candi Laras dan saya Patih Pambalah Batung mendengar sendiri Maha Patih sangat memuji tuan sebagai penyandang dana seluruh biaya ekspidisi ini.”

Amang Ical mendengarkan saja sang jenderal bicara. Nampak sekali dia tidak ingin menimpalinya sehingga sekuen ini menjadi monolog.

Sebagai pemimpin ekspidisi ini saya berterima kasih kepada tuan, karena dengan dukungan tuan maka ekspedis ini sukses. Tidak lama lagi kita akan kembali ke Negeri Candi Laras. Setelah upacara sesembahan nanti, segeralah saya serahkan Pangeran Tebupait, calon suami Putri Laras Tunjung Sari.

Dan saya kira tuan saudagar sudah mengetahui bahwa perahu layar Prabayaksa ini akan dihibahkan Mahapatih kepada saya sebagai hadiah suksesnya misi kita ini.
Sekarang saya ingin mendengar langsung, apakah tuan saudagar mau kongsian dengan saya nantinya untuk mengoperasikan Prabyaksa sebagai kapal dagang ke negeri Tumasik. Apakah tuan pernah berdagang hingga ke Tumasik?

Amang Ical mengernyitkan dahi berlagak pilon, tapi masih diam saja. Dalam hatinya berbisik;

“Tumasik?..Elu aja yang oon, sejarah bisnisnya juga gue hapal. Dimasa depan Tumasek bernama Singapore, punya BUMN namanya Temasek Holding Pte Ltd, memiliki 40,8 persen saham Indosat Tbk, meraup keuntungan sangat besar ketika saham itu kemudian dijual kepada Qatar Telecom (Qtel) senilai 2,4 miliar dollar Singapura atau 1,8 miliar dollar AS setara Rp 16,8 triliun dengan kurs Rp 9.300 pada tahun 2008.”

Monolog Patih Pambalah Batung masih terus berlanjut….

Tapi nampaknya tuan ragu tentang kapal ini, apakah tuan meragukan kehandalannya atau adakah tuan ragu berkongsi dengan saya?

Amang Ical tak tahan lagi untuk tidak bicara;

Tidak….bukan tentang kehandalannya, Prabayaksa sudah lolos ujian berat ketika kandas dan diamuk badai tempo hari. Tapi benar seperti anda katakan, saya memang meragukan anda apalagi untuk kongsi bisnis, terus terang saya tidak percaya anda !

Patih Jenderal Pambalah Batung kaget dan mau angkat bicara..tapi Amang Ical sangat taktis.

“Tunggu jenderal….. sekarang giliran saya bicara setelah saya membiarkan anda terus bicara seenaknya mengatakan bahwa misi ini sukses. Apanya yang sukses? Sedangkan anda dan semua yang ada di kapal ini mengetahui bahwa Pangeran Tebupait hilang lenyap ketika badai tempo hari, lalu apa dan siapa yang akan anda serahkan?. Misi ini gagal jenderaaalll…

Anda sangat jelas seorang yang korup, menyalah gunakan jabatan untuk menipu Mahapatih Negeri Candi Laras.

Anda mengerti bahwa saya yang membiayai seluruh ekspisi ke Mayapait. Jika misi ini sukses sejujurnya saya memang mengharapkan diberikan konpensasi. Saya mengharapkan diberi konsesi tambang batu emas di Pangarong. Tapi misi ini gagal dan tentu tidak akan ada konpensasi itu, tidak akan pernah ada konsesi itu.
Saya memang rugi besar karena kegagalan ini. Tetapi saya tidak akan pernah ikut bersama anda untuk menipu Mahapati Negeri Candi Laras.”

Amang Ical menumpahkan kemarahannya, tapi patih punya trik lain dan menjalankan scenario B.

“Hulubalang…… bawa orang Jawi itu kesini, hadapkan si Lembu Ijo dan tunjukkan wajahnya kepada tuan saudagar, dia tampan dan jelas sempurna ketimbang Pangeran Tebupait yang bodong itu. Lihatlah tuan saudagar, dia lebih pantas bersanding dengan Puteri Laras Tunjung Sari, dia perkasa dan sempurna.

Ini semua saya lakukan demi rakyat dan kerajaan Negeri Candi Laras. Demi anda tuan saudagar, agar tuan bisa mendapatkan konsesi tambang batu emas itu. “….

“Saya heran tuan saudagar tidak bia berfikir pragmatis.”

Lembu Ijo adalah satu satunya prajurit bhayangkari Mayapait yang menyertai Pangeran Tebupait.

“Tidak Jenderal, meski anda katakan demi rakyat, demi kerajaan, tetap saja penipuan saya tidak bisa menerimanya, sebab sangat bertentangan dengan jiwa dan sifat saya.”
Amang Ical menegaskan lagi pendiriannya.

“Baik…tuan saudagar juga menentang saya dan pasti akan membocorkan rahasia ini. Sejak awal saya katakan siapa saja yang tidak taat perintah dan menentang saya akan menerima resikonya.”

Dorrrr…

Patih Pambalah Batung menembakan pistolnya keatas…serentak sejumlah hulubalang dan prajurit bersenjata lengkap dalam formasi blockade.

“Saya perintahkan tangkap saudagar sombong ini dan nanti setelah sampai di Negeri Candi Laras akan diadili didepan mahkamah dengan tuduhan menggelapkan pajak negeri.”

Tapi tidak ada satupun prajurit yang bergerak menangkap Amang Ical. Bahkan sejumlah prajurit merapat kearah amang memberikan perlindungan penuh dengan segenap jiwanya. Orang baik mendapatkan rejekinya dimana saja. Dalam situasi genting yang mengancam jiwanya Amang Ical dapat perlindungan spontan bukankah itu rejeki namanya?

Pada sisi lain meski berpangkat jenderal Patih Pambalah Batung justeru kehilangan dukungan prajurit yang selama ini patuh dibawah komandonya. Ini jelas pembangkangan yang spontan seluruh hulubalang dan prajurit tidak lagi tunduk taat perintah sang jenderal. Mengetahui prajuritnya membelot, Patih Pambalah Batung tambah bringas dan dengan cepat mengarahkan pistolnya ke jantung Amang Ical…dua kali triger pemicu ditarik

Klekek…klekek….

Pistol tidak bisa meletus lagi. Sang Jenderal lupa pistol jaman beheula pelurunya cuma satu, bukan otomatis punya. Kalau mau nembak lagi harus mengisi ulang mesiunya dari depan laras lalu dilocok dan diisi timah proyektilnya.

Klekek…..klekek

Ha ha ha ha ha ha ha ha ha… seluruh prajurit tertawa terbahak bahak

***

Upps mendadak gelap……………ternyata listrik PLN mati untung saya pake UPS.

Lembo Bodong VIII

Lembu Ijo satu satunya prajurit bhayangkari Mayapait yang ditugaskan sebagai pengawal keranda Pangeran Tebupait, ketika diinterogasi Patih Panimba Segara, Lembu Ijo berceritera bahwa dia memang memergoki Patih Pambalah Batung menyingkap tabir keranda. Khawatir lembu Ijo bicara, kemudian Patih Pambalah Batung menangkap dan mengikat Lembu Ijo. Namun ketika itu tiba tiba terjadi badai angin dan hujan disertai gemuruh petir menyambar. Dalam keadaan gelap dan kapal terobang ambing ketika diamuk badai mereka bergulingan di lantai geladak;

“Kepala saya terbentur dan saya tidak tahu lagi apa yang terjadi.”

Jadi kamu tidak melihat Patih Pambalah Batung yang melemparkan Pangeran Tebupait kelaut bersama kerandanya.

“Saya hanya sempat memergokinya menyingkap tabir keranda”

Artinya kamu tidak bersedia bersaksi didepan mahkamah bahwa Patih Pambalah Batung yang melemparkannya kelaut di saat amuk badai malam itu.

“Maaf tuan, saya hanya akan mengatakan apa yang sebenarnya saya lihat“

Semuanya terdiam..mendengan ucapan Lembu Ijo.

“Tapi bukankah tuan mendengar sendiri tuan Patih Pambalah Batung mengatakan bahwa Pangeran Tebupait adalah seorang yang cacat dan tidak layak bersanding dengan Tuan Puteri Laras Tunjung Sari.”

Patih Panimba Segara terdiam dalam hatinya berkata benar juga ya.

Amang Ical terdiam dalam hatinya berkata benar juga ya.

Perwira Pertama terdiam dalam hatinya berkata benar juga ya.

Beberapa Hulubalang yang ikut menyaksikan interogasi itu juga terdiam dalam hatinya berkata benar juga ya.

***

Patih Panimba Segara bersama Amang Ical, Patih Garuntung Waluh dan Patih Garuntung Manau, dengan jelas mendengar dan mengingat kesepakatan yang dibuat Jenderal Patih Pambalah Batung sebagai pemimpin misi dengan Patih Gajah Maya di bangsal keraton Mayapait. Sangat jelas terngiang kembali, bahwa mereka sepakat dan berjanji tidak akan membuka keranda untuk melihat sang pangeran sampai keranda disandingkan di pelaminan dengan Puteri Laras Tunjung Sari.

Kedatangan tuan meminta putera raja kami untuk dinikahkan dengan puteri raja tuan di negeri seberang, bagi saya dan juga mahapatih sulit memahaminya. Kami tidak bisa melihat paras wajahnya untuk mengenali ndoro Puteri Laras Tunjung Sari, karena tidak dibawa serta bersama rombongan tuan, kami sulit memperimbangkannya. Namun raja kami adalah raja yang bijaksana tidak akan menolak permintaan tuan, beliau setuju memberikan Raden Putera bernama Pangeran Tebupait.
Syaratnya cuma satu, Maharaja kami menitahkan kepada anda semua para utusan dan siapa saja, tidak boleh melihat putera raja kami yang sekarang ada dalam keranda ini. Keranda ini hanya boleh dibuka ketika bersanding dipelaminan dengan ndoro puteri raja Negeri Candi Laras.
Apakah kita sepakat?

Kata kata itu melekat dalam ingatan mereka yang hadir pada saat perjanjian itu disepakati. Tapi sekarang perjanjian itu cedera karena ambisi Jenderal Patih Pambalah Batung. Sang jenderal tidak ingin dinilai bodoh oleh Mahapatih Negeri Candi Laras karena membuat kesepakatan itu, apabila nantinya ternyata ketampanan Pangeran Tebupait tidak sepandan dengan kecantikan Puteri Laras Tunjung Sari.

Patih Pambalah Batung ternyata diam diam berupaya menyingkap keranda yang diselimuti tabir kain sutera kuning bertatah gambar burung elang kepala dua bercakar sembilan.
***
Lembu Ijo sendiri juga terdiam tapi dia sedang berfikir keras apakah sekarang adalah saat yang tepat dia membuka penyamarannya. Dia berfikir sekarang dia berada di tanah seberang jauh dari Kerajaan Mayapait. Sendirian di atas kapal di negeri orang, segala kemungkinan bisa terjadi bahkan bisa saja tiba tiba berhadapan dengan maut.

Bertindak lebih baik dari pada berfikir, situasi yang dihadapi sekarang adalah saat bertindak dan bukan waktunya berfikir, demikian kata hatinya.

“Tuan Nakhoda,”….. Bolehkan saya bisacara empat mata” …Lembu Ijo berkata memecah kebekuan suasana.

“Silahkan tapi kita bicara dengan enam mata.”

Patih Panimba Segara memandangi hulubalang dan perwira pertama. Dengan sorot matanya dia perintahkan mereka pergi, kecuali Amang Ical yang tetap berada disampingnya.

Jadi sekarang kamu mau bersaksi…silahklan…Aku Patih Panimba Segara dan Tuan Saudagar Amang Ical akan mendengarkan kesaksianmu.
Ucapan kamu sekarang akan kami hadapkan ke mahkamah Negeri Candi Laras. Kata kata kamu sekarang akan melawan kamu sendiri di mahkamah bilamana kamu berkata tidak benar.

Bukan kesaksian saya tuan nakhoda.

Lantas apa…?

“Sebenarnya sayalah Pangeran Tebupait yang sesungguhnya, sengaja under cover sebagai Lembu Ijo prajurit bhayangkari demi keselamatan saya sendiri.

Perwira Pertama…. tahan orang ini ; teriak Patih Panimba Segara.

Lembu Ijo dikawal turun dari lantai geladak digiring ke ruang bawah. Lalu kedua tangannya diikat ke tuas kayu pompa penyedot genangan air di dasar lunas kapal layar bertiang satu Prabayaksa. Dalam sekejap nyamuk nyamuk menancap dibadan dan dengan ganas menyedot darahnya.

“Mengapa anda menangkapnya,” Amang Ical bertanya.

Sudah jelas Lembu Ijo bersekongkol dengan Patih Pambalah Batung.

Pengakuan belum menjadi alat bukti di mahkamah. Bukankah Lembu Ijo mengatakan bahwa dia memergoki Patih Pambalah batung menyingkap tabir. Hal ini akan menjadi alibi dia tidak bersekongkol. Lembu Ijo bisa saja berdalih bahwa dia dibawah tekanan Patih Pambalah Batung.

Lantas…?

Saya sarankan Lembu Ijo dalam pengawasan penuh namun tidak perlu ditahan. Kita lihat perkembangannya apakah ada petunjuk kebenaran pengakuannya bahwa dia adalah Pangeran Tebupait yang sebenarnya.

Lalu………?, Patih Panimba Segara memandangi Amang Ical.

Jika Lembu Ijo ternyata benar Pangeran Tebupait yang sesungguhnya, tentu akan tidak baik bagi anda. Karena dia akan menjadi menantu Mahapatih dan mungkin dinobatkan sebagai Raja mahkota. Anda harus pikirkan hal itu.” Amang Ical memberikan nasihat yang cerdas.

Bagaimana kita bisa segera membuktikannya sebelum sandar di dermaga Sungai Salai Negeri Candi Laras.

***
Selikur artinya duapuluhsatu, malam ketujuh setelah purnama penuh selalu terdengar tembang dengan suara yang teramat merdu. Si Ledong memang beruntung memiliki paras wajah tampan setampan saya namun memiliki kelebihan lain yaitu suaranya yang merdu. Setiap malam likuran dia membaca kakawih tanah Tebupait yang berkisah tentang gadis tercantik bunga dusun yang diboyong ke istana menjadi selir Sang Prabu Raja Mahkota.

Tujuh malam sudah purnama pergi.
Hanya tersisa sedikit cahayamu bulan.
Tetapi cukuplah cahyamu membelai jiwaku.
Dalam mimpiku kau selalu ada bersinar terang.

Besok malam kita akan dengarkan apakah Lembu Ijo mampu memperdengarkan kakawih tanah Tebupait yang biasanya didendangkan sang pangeran. Kita akan dengarkan dan bandingkan suara merdunya dan juga runtut syairnya.

Lembu Bodong IX.

Posisi tall ship perahu layar bertiang satu Prabayaksa berada pada kordinat Lupak Dalamdi perairan Muara Barito.

“Tolong kamu perhatikan betul seluruh kebutuhan Jenderal Patih Pambalah Batung, makanan jangan sampai terlambat,” perintah Nakhoda Utama Patih Panimba Segara kepada si Cingil pelayannya. Cingil hanya mengangguk menerima perintah tuannya.

“Jangan lupa pakaian bersih…sipil….dan ambil semua pakaian dinas militernya.

Baik tuan…Cingil menjawab pelan.

“Kamu harus selalu ingat siapa prajurit yang berjaga di depan pintu kamar jenderal, apakah prajurit itu memang yang saya pernah sebutkan atau tidak. Kamu masih ingat nama nama mereka?

“Ingat…masih ingat, tuan”

“Infokan kepada saya segera jika yang berjaga bukan prajurit yang saya sebutkan..paham?”

“Paham tuan”, jawab Cingil.

Sejak peristiwa Mutiny on the Prabayaksa at Tabuneo Bay, Jenderal Patih Pambalah Batung ditahan di kamarnya dengan penjagaan ketat dua prajurit. Nakhoda Utama Patih Panimba Segara memerintahkan Perwira Kedua untuk melaksanakan tugas penjagaan ketat oleh prajurit tertentu pilihan sang nakhoda.

Sekedar flashback, ketika di Teluk Tabuneo, Jenderal Patih Pambalah Batung menodongkan pistolnya kearah jantung Amang Ical, saudagar kaya pengusaha tambang batu emas, penyandang dana ekspidisi ini. Tetapi pistol tidak meledak karena sebelumnya sudah ditembakkan keatas memanggil hulubalang dan prajuritnya. Untuk tembakkan berikutnya mesiu belum dilocok dan proyektilnya belum terisi. Pistol jaman beheula bukan otomatis punya.

Meskipun Jenderal Patih Pambalah Batung adalah pemimpin misi ekspidisi Prabayaksa, namun diatas kapal pemegang komando tertinggi adalah nakhoda utama, Patih Panimba Segara adalah pemimpin tertinggi. Tidak ada satu tindakanpun boleh dilaksanakan tanpa perintah nakhoda.

Apa yang di lakukan Patih Pambalah Batung merupakan tindakan indisiplinir, suatu bentuk subordinasi dalam kategori tindakan pemberontakan. Karena itu dia ditahan untuk dihadapkan kepada mahkaman kerajaan Negeri Candi Laras. Semua senjata dan atribut kebesaran jabatan dilucuti meski status militernya masih melekat.

Si Cingil dia tugaskan sebagai agent mata mata. Patih Panimba Segara memperhitungkan masih ada kekuatan pendukung Jenderal Patih Pambalah Batung yaitu kelompok Patih Garuntung Waluh.

Sementara itu didalam kamar tahanan, Jenderal Patih Pambalah Batung merancang taktik strategis serta siasat bagaiman menghadapkan Patih Panimba Segara dan Patih Garuntung Manau ke mahkamah dengan tuduhan berlapis yaitu; setidaknya lalai melaksanakan perintah sehingga Pangeran Tebupait yang dalam keranda hilang ketika di amuk badai. Tuduhan lapis kedua, tindakan indisipliner, bahkan menentang perintah pemimpin misi. Tuduhan utama adalah menggagalkan misi dan tugas yang diperintahkan Mahapatih Kerajaan Negeri Candi Laras.
***
Selikur artinya duapuluhsatu, malam ketujuh setelah purnama penuh, kedudukan bintang aras si karantika sudah bergeser posisinya kearah barat menandakan setengah malam sudah lewat. Namun tembang merdu kakawih Tanah Tebupait tak terdengar jua. Berarti pengakuan Lembu Ijo bahwa dialah Pangeran Tebupait yang sesungguhnya adalah kebohongan belaka.

Di kamarnya, Lembu Ijo memang berusaha nembang kakawih Tanah Tebupait namun kerongkongannya tercekat tak dapat bersuara, apalagi menirukan suara merdu Lembu Bodong alias si Ledong atau Pangeran Tebupait. Nembang harus dengan penjiwaan, mempunyai chemistry dengan isi kakawih tanah Tebupait. Tak bedanya seperti ketika menyanyikan suatu lagu memerlukan jiwa bebas yang merasuk ke dalam inti ceritera dari syair lagu yang akan dinyanyikan.

Sekarang phsikologis Lembu Ijo sedang sangat tertekan. Sehingga untuk berbicara sekalipun lidahnya serasa kelu kerongkongannya tercekat. Sejujurnya dia juga tidak ingin menipu dengan mengaku sebagai Pangeran Tebupait. Dia hanya ingin terjamin keselamatan dirinya dalam pelayaran ini hingga sampai kehadapan Mahapatih Negeri Candi Laras. Dia hanya ingin mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi yaitu Jenderal Patih Pambalah Batung mengingkari perjanjian dengan Mayapait. Perjanjiannya bahwa Pangeran Tebupait yang berada di dalam keranda, baru boleh dilihat ketika bersanding di pelaminan dengan Puteri Laras Tunjung Sari.

***

“Lapor Jenderal… Patih Garuntung Manau mohon ijin bicara dengan tuan,” Perwira Pertama melapor kepada Patih Panimba Segara.

“Persilahkan Jenderal Patih Garuntung Manau masuk ruang kemudi di anjungan nakhoda.”

“Siap laksanakan…,” Perwira pertama pergi menjemput Jenderal Patih Garuntung Manau yang sedari tadi berdiri di lantai geladak. Dia ingin membicarakan tentang usul rencana tindakan terhadap Lembu Ijo yang menurutnya sudah pasti penipu belaka. Selain itu ada info penting bocoran ’situs wikileaks’ tentang Prabayaksa yang akan dihibahkan Mahapatih Negeri Candi Laras kepada Jenderal Patih Pambalah Batung jika misi ini sukses. Patih Garuntung Manau mengetahui bahwa Prabayaksa adalah aset keturunan keluarga, warisan pribadi keluarga Jenderal Patih Panimba Segara. Bukan aset kerajaan Negeri Candi Laras.

Lembu Bodong X.

“Ketika bintang Aras si Karantika sudah bergeser posisi ke arah barat tadi malam, aku tambahkan prajurit berjaga di depan kamar Lembu Ijo sesuai dengan pesanmu.“
Patih Geruntung Manau memulai pembicaraan dengan nakhoda utama Patih Panimba Segara.

“Terima kasih abah telah bertindak meningkatkan penjagaan terhadap Lembu Ijo. Jangan sampai orang Jawi itu terbunuh, kita akan kehilangan saksi didepan mahkamah untuk mengadili Jenderal Patih Pambalah Batung. Pengadilan mahkamah yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang sejarah Kerajaan Negeri Candi Laras.”.

Ilmu intelijen mengajarkan tindakan praktis militer manakala terjadi kudeta maka pemimpin tertinggi yang digulingkan haruslah diamankan secara ketat. Sebab kemungkinan terjadi pembunuhan terhadap petingi penting tersebut maka fitnah akan ditempelkan dijidat perwiwa yang melaksanakan tugas. Fitnah bisa disebarkan oleh lawan politik maupun perwira lain yang ingin menjatuhkannya.

“Benar sekali,” ujar Patih Garuntung Waluh.
“Aku juga berfikir begitu. Jika orang Jawi ini terbunuh di atas Prabayaksa, maka pihak Patih Pambalah Batung akan melancarkan tuduhan balik bahwa kita yang menghabisi Pangeran Tebupait, calon suami Puteri Laras Tunjung Sari. Dan kita tidak dapat memberikan alasan bahwa ia adalah Pangeran Tebupait palsu. Jadi Lembu Ijo adalah saksi sejarah.“

Selanjutnya dialog mereka tidak terdengar lagi diluar kamar, karena pintu ditutup.
Penggunaan kata aku menunjukan bahwa pembicaraan mereka bersifat pribadi dan tidak terikat hirarki milter. Dari sisi usia Garuntung Manau memang 15 tahun lebih tua ketimbang Panimba Segara maupun Pambalah Batung dan Garuntung Waluh. Dia adalah jenderal senior yang tidak dipensiunkan di Kerajaan Negeri Candi Laras. Lebih tepatnya tidak ada yang berani mengatakan bahwa dia dipensiunkan, temasuk Mahapatih sendiri tidak pernah berani mengatakannya.

Meski usianya sudah 72 tahun dengan rambut memutih gondrong sebahu, pisik Jenderal Patih Garuntung Manau yang kokoh padat berotot membuatya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Pada setiap seremoni kerajaan, protokoler menempatkanya disamping kiri Mahapatih.

***
“Saya akan jamin sepenuhnya keselamatan Pangeran Tebupait, selaku Nakhda Utama Prabayaksa saya kira tidak perlu pengawal khusus seorang prajurit bhayangkari menyertai tuan pangeran di kapal kita.” Usul Patih Panimba Segara ketika itu sebelum bertolak dari pelabuhan Tuban untuk perjalanan kembali ke Negeri Candi Laras.

Tetapi Pambalah Batung selaku pemimpin misi ekspidisi ini mempunyai pendapat lain;

“Pengawalan khusus oleh satu orang dari prajurit bhayangkari sudah menjadi keputusan saya selaku pemimpin misi ekspidisi dan saya sudah pilih orangnya adalah prajurit Lembu Ijo. Masalah ini selesai dan tidak dibicarakan lagi.” Demikian penegasan Jenderal Patih Pambalah Batung.

Sikap dan keputusan tanpa musyawarah oleh Patih Pambalah Batung membuat Patih Panimba Segara dan Patih Garuntung Manau berprasangka bahwa tentu ada rencana lain dibalik keputusan itu. Sekarang Pangeran Tebupait hilang lenyap bersama kerandanya dan Patih Pambalah Batung membuat keputusan bahwa Lembu Ijo akan dijadikan figure Pangeran Tebupait. Dia dengan muslihatnya berupaya menyembunyikan kegagalan misi ekspidisi itu yang tentu akan menghancurkan reputasinya.

***
“Apakah tuan saudagar bersedia menjadi saksi pada mahkamah Negeri Candi Laras bahwa Jenderal Patih Pambalah Batung telah mengatakan rencana tipu muslihatnya itu.”Tanya Patih Panimba Segara kepada Amang Ical, sposnsor utama ekspidisi ini.

“Tentu saya sangat bersedia, saya bersedia sebagai saksi utama atas rencana penipuan busuk terhadap Negeri Candi Laras.” Ujar Amang Ical menjawab tegas.

Dia memang mengharapkan ekspidisi itu sukses dan seluruh biaya akan mendapat konpensasi dari Kerajaan Negeri Candi Laras berupa konsesi tambang batu emas di Pangarong. Jika ekspidisi gagal tentu dia tidak mendapatkan konpensasi itu. Resiko rugi semacam ini adalah hal biasa dalam berdagang. Karena itu ia tidak mau bersekongkol dengan Patih Pambalah Batung. Seorang pengusaha sekaliber Amang Ical akan selalu memegang komitmen untuk menjaga kehormatan dan kepercayaan masyarakat.

“Tidak akan menarik pernyataan tuan ini jika nanti dihadapkan ke mahkamah?” Tanya Patih Panimba Segara meyakinkan.

“Pasti…pendirian saya tidak akan berubah. Apalagi pistol Patih Pambalah Batung sudah pernah diarahkan ke jantung saya agar saya tidak membuka rahasia itu.”

Nakhoda Utama Jenderal Patih Panimba Segara dan Patih Garuntung Manau menghela nafas lega dan yakin bahwa Amang Ical ada dipihak mereka. Tiba tiba toktotk toktok….pintu dibuka ternyata si Cingil pelayan Patih Panimba Segara.

“Maaf tuan saya tidak bermaksud menggangu atau menguping…saya hanya ingin menunjukan catatan saya ini bahwa malam ini adalah malam likuran, tujuh hari setelah purnama penuh…jadi bukan malam kemaren tuan….. mohon maaf tuan.“

“Hahhh…..” dua Jenderal itu tersentak berbarengan. Itu sebabnya mengapa tembang merdu kekawih Tanah Tebupait tidak terdengar kemaren malam. Jadi belum bisa dipastikan siapa sebenarnya Lembu Ijo.

***
Sorry bro,…ada perbedaan kalender antara rukyatul hilal dengan sistem hisab.🙂

Lembu Bodong XI.

Selikur artinya dua puluh satu, tujuh malam setelah purnama penuh. Cuaca cerah, jernih, langit biru gelap bertabur selaksa bintang. Sudah lewat tiga perempat malam, bulan sabit bersinar temaram membekukan hening mejadi sepi. Bahkan anginpun berhenti berembus. Perahu layar bertiang satu Prabayaksa bergerak pelan sekali, hanyut ikut alir air pasang.

Cingil dan teman temannya membawa seperangkat gamelan, kenong, gender, sarun, babun dan gong ke geladak. Mereka menabuhnya dengan pelan meningkah sepinya malam. Alunan nada seakan sedang berdoa.

Lamat lamat terdengar tembang mengalun dengan suara yang sangat merdu ;

Tujuh malam sudah purnama pergi.
Hanya tersisa sedikit cahayamu bulan.
Tetapi cukuplah cahyamu membelai jiwaku.
Dalam mimpiku kau selalu ada bersinar terang.
Demi malam sepi ketika mereka bermimpi
Aku coba mengerti makna rintihan perawan…
Perawan yang diusung sebagai upeti
Demi negeri tanah tebupait

Rintihan perawan,.. rintihan perawan
Agar semua manusia mengerti…keburukan dirinya…
Tingkah manusia selalu berulang karena nafsunya
Kehilangan akal budinya demi nafsu yang dia tidak pernah mengerti
Tujuh malam sudah purnama pergi.
Hanya tersisa sedikit cahayamu bulan
Mengantar senyum ibu yang kurindu
Sekarang aku mengerti makna senyum bundaku cahaya sang rembulan

Sekarang aku mengerti rintihan perawan
Bukan menolak kehadiranku ke dunia ini
Yang sempurna cacatnya dan harus ditebus dengan pengabdian
Menuntut pengorbanan untuk menemukan cinta sejati.
Dari rintihan,… rintihan,.. dan rintihan perawan
Kukabarkan kepada alam manusia
Bahwa mereka adalah jiwa dari lakon ragawi
Ketika ruh ditiupkan pada empat puluh hari
Mestinya mereka akan mengerti
Hidup sejatinya hanya mengabdi.

Teman teman Cingil menyimak alunan merdu tembang itu seakan tersihir. Tangan mereka menabuh gamelan selendro laras Jawa yang samasekali mereka tidak mengerti notasinya. Timfani mengalun dalam pengaruh magis dari dunia lain. Hanya Cingil yang nampaknya masih sadar, beranjak pergi mencari tahu dari arah mana tembang itu berasal. Dia menuju kamar Lembu Ijo karena menduga dialah yang nembang kakawih Tanah Tebupait. Tetapi ternyata Lembu Ijo tidur mendengkur dikamarnya. Jadi pastilah yang baru didengarnyanya bukanlah suara si Lembu Ijo.

Cingil segera berlari kembali ke geladak, namun dia menemukan teman temanya penabuh gamelan sudah sirep tertidur pulas seperti seluruh isi kapal lainnya. Suasana dingin dibalut harum kemenyan membekukan waktu………Cingil sudah tertidur juga…pulaasss.Tall ship atau perahu layar bertiang satu Prabayaksa berlayar seperti kapal hantu. Bahkan air sungaipun enggan beriak bergelombang seakan paham dari arah mana misteri akan datang.

Mereka baru terbangun ketika cahaya matahari pagi mengusap jidad dan mendengar gaung jiwa dalam alunan gamelan Jawa. Cingil terbangun dan mendapatkan dirinya bersama teman sudah pindah dari lantai tengah geladak ke haluan dekat sampung tinggi Prabayaksa. Di dekat tangga monyet berdiri seseorang berbusana lengkap dengan atribut kebesaran Kerajaan Mayapait. Seragam sutera hijau muda dengan overcoat bersulam benang emas, bertatah ornamen gambar burung elang kepala dua bercakar sembilan.

“Mari…mendekatlah jangan takut aku bukan hantu. Katakan kepada tuanmmu Patih Panimba Segara…akulah Pangeran Tebupait Putera Raja Mahkota Mayapait… yang nyata berdiri di sini didepanmu..mari kita berjabat tangan.”

Cingil mengulurkan tangan dan cuma menyentuh ujung jari tangan Pangeran Tebupait. Dia agak gemetar dan tanpa bicara dia berpaling melangkah pergi segera lapor kepada tuannya Nakhoda Utama Jenderal Patih Panimba Segara.

***

Banyak perahu kecil penduduk Negeri Candi Laras merapat ke Prabayasa. Ketika nakhoda utama Jenderal Patih Panimba Segara turun ke geladak, disana sudah ada Jenderal Patih Pambalah Batung, Patih Garuntung Waluh, Patih Garuntung Manau, Amang Ical dan seluruh perwira serta hulubalang. Mereka ternyata telah bersepakat mengakui bahwa pria tampan itu adalah Pangeran Tabupait.

Patih Panimba Segara terlihat agak kecewa karena Patih Pambalah Batung selaku pemimpin misi telah mengucapkan pengakuan itu tanpa menunggu kehadirannya.

“Bagaimana tuan bisa memberikan bukti nyata bahwa tuan adalah Pangeran Tebupait yang sesungguhnya” Ujar Patih Panimba Segara.

“Kami bahkan tidak pernah mengenali wajah tuan ketika keranda kami terima di bangsal keraton Mayapait, keranda ditutup selubung kain sutera kuning bertatah gambar burung elang kepala dua bercakar sembilan.” katanya lagi.

“Tapi okey…tuan tidak perlu menjawab…kami masih punya saksi untuk menyatakan apakah tuanlah sesungguhnya Pangeran Tebupait atau hanya seorang penipu.” Patih Panimba Segara bicara tegas.

“Bawa dan hadapkan Lembu Ijo ke sini” perintah Patih Panimba Segara kepada perwira pertama. Lembu Ijo adalah satu satunya prajurit bhayangkari Kerajaan Mayapait yang mengawal sang pangeran dalam perjalanan itu. Rona wajah seluruh hadirin terutama Jenderal Patih Pambalah Batung nampak sekali tegang dan tidak senang dengan tindakan sang nakhoda utama.

“Sandika tuan patih, perintah kami laksanakan” sahut perwira pertama lalu pergi bersama Cingil dan hulubalang. Ketika Lembu Ijo dihadapkan, dia spontan bersujud menghatur sembah kepada pria tampan itu.
“Meski cuma sekali pernah melihat wajah tuan Pangeran Tebupait, putera Raja Mahkota Mayapait saya sangat kenal wajahnya. Tapi Pangeran Tebupait tubuhnya cacat, tidak berkaki dan tidak bertangan. Wajah tuan ini persis dengan wajah tuan pangeran yang didalam keranda”.

Lembu Ijo tidak pernah memberi kesaksian meyakinkan bahwa Pangeran Tebupait memang sebenarnya adalah Lembu Bodong atau si Ledong dari dukuh Tebupait. Pria tampan yang memiliki tahilalat dipunggung hidungnya sama seperti Gayus Tambunan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengantar

Blog ini dibuat pada 15 Maret 2008 untuk menuliskan fikiran dan pandangan guna memahami orang lain melalui feed back atau tanggapan atas pemikiran yang tertulis, terutama pemikiran dari generasi muda yang sedang memainkan perannya diatas lantai kehidupan berbangsa di republik ini. About Me

Since March 15, 2008.

  • 190,888 hits

Pagerank Checker

Page Rank Check
Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Guest IP

IP

Visitors Map

Blog Indonesia

Blogger Indonesia

Current Moon

CURRENT MOON

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip

Syam Jr

Juni 2015
S S R K J S M
« Mei   Agu »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d blogger menyukai ini: