SyamJr's WebBlog

Lembu Bodong

LEMBU BODONG I.

Lembu Bodong alias si Ledong adalah anak ibunya, bukan berarti dia tidak punya ayah.

“Bapaknya orang istana”,

Begitulah biasanya kata warga setempat jika ditanya. Tetapi ada saja warga yang kepleset ngomong, katanya si Ledong adalah anak;

“Pangeran Ibas”

“Hush sembarangan…Ibas bukan pangeran, dasar tukang gosib lebay”

“ Oh iya Ibas hanya anak punggawa istana”

“Eeeeh ngoceh lagi…mending diam lo….sok tau”

Akuwu Tebupait menghardik si Anis, keponakannya yang masih abege.

Meski tidak seorangpun dapat menyebutkan dengan pasti siapa orang istana dimaksud, tetap saja Si Ledong disebut sebagai anak orang istana. Namanya juga gosib, terus meluncur bebas dari mulut ke telinga warga ketika mereka bergunjing.

Memang beberapa kali sang akuwu ( kepala dusun ) Tebupait membujuk gadis cantik bunga dusunnya itu untuk mengungkapkan siapa sebenarnya ayah si Ledong. Tetapi selalugagal maning gagal maning.

Jawaban berupa senyum teramat manis itulah penyebabnya akuwu tak sanggup memaksanya bicara. Pada catatan pedukuhan di daun lontar, tertulis “ketika kutanya siapa sang ayah si Ledong selalu dijawab dengan semyum tersipu”

Sepasukan Bhayangkari mendatangi rumah Nirondo Putih, mengegerkan dusun. Warga Tebupait berdatangan ke rumahnya ingin mengetahui apa gerangan yang akan terjadi. Sebagian warga bertanya-tanya, apakah ini penangkapan?, siapa yang ditangkap?. Tetapi mengapa pasukan bhayangkari membawa kereta kencana yang biasanya hanya digunakan oleh penghuni kaputren istana.

Tak lama kemudian terdengar tangis bayi, si Ledong menangis karena disapih Nirondo Putih ketika masih menetek ibunya. Emaknya Ledong terlihat keluar gubuk tanpa menoleh sesiapapun, lalu dibimbing prajutir menaiki kereta kencana. Sesaat seluruh warga yang hadir terdiam, sepiiii hening seakan malaikat sedang lewat. Keheningan dipecahkan suara akuwu
“emaknya Ledong boyong ke istana”.
……Ooohhhhhhh…

Warga bubar, bunga dusun dibawa ke istana raja seperti mengungkap separoh rahasia. Memang benar bahwa ayahnya Ledong adalah orang istana. Namun siapakah dia masih tersisa tanda tanya.

II.
Selikur artinya duapuluhsatu, malam ketujuh setelah purnama penuh selalu terdengar tembang dengan suara yang teramat merdu. Ledong memang beruntung memiliki paras wajah tampan setampan saya namun memiliki kelebihan lain yaitu suaranya yang merdu. Setiap malam likuran dia membaca kakawih tanah Tebupait yang berkisah tentang Gadis bunga dusun yang diboyong ke istana menjadi selir Sang Prabu Raja Mahkota.

Ledong sudah jejaka berusia dua puluh satu tahun, namun dia tidak memahami bahwa kekawih tanah Tebupait yang dilantunkannya adalah hikayat ibundanya yang dituliskan akuwu di daun lontar sebagai hadiah warisan dari kepala dusun itu. Bahkan dia tidak mengenal ibunya. Ledong hanya kenal Nirondo Putih mbahnya. Dia menerima saja dan tidak pernah bertanya, merasa tidak perlu bertanya siapa ayah ibunya. Dia menyadari betul dan menerima takdir seutuhnya, meski berparas tampan namun cacat bawaan dalam kandungan. Tubuhnya tidak berkaki dan tidak bertangan.

Setiap malam dua puluh satu dia selalu bersenandung :
Tujuh malam sudah purnama pergi.
Hanya tersisa sedikit cahayamu bulan.
Tetapi cukuplah cahyamu membelai jiwaku.
Dalam mimpiku kau selalu ada bersinar terang.

III.
Bergerak cepat dan tersistem seperti Densus 88, sepasukan bhayangkari mendatangi rumah Ledong, peristiwa langka yang mengegerkan dusun. Warga Tebupait berdatangan ke rumah Ledong ingin mengetahui apa gerangan yang akan terjadi. Sebagian warga bertanya-tanya, apakah ini penangkapan?, siapa yang ditangkap?. Ledong memang tidak bisa meronta, dia cacat tidak berkaki tidak bertangan tentu tak berdaya. Terperangkap sorot tajam mata warga yang curiga.

Dia hanya diam membisu, meskipun matanya menyiratkan bisikan protes kata hatinya. “ Aku bukan mafia pajak, meski cacat begini upeti buat kerajaan tetap kusetorkan”.

Uang dari mana? Setiap malam dua puluh satu, diam diam warga dusun selalu memberikan hadiah untuk tembang dengan suara merdunya. Pada pagi harinya Nirondo Putih selalu menemukan beberapa keping tembaga tergeletak di ‘sofa’ depan gubuknya. Uang itulah yang dikumpulkan dan disetorkan kepada kepala dusun pemungut upeti buat kerajaan.

Prajurit berbadan kekar dan tangguh tetap saja merimpung tubuh cacatnya. Memasukannya ke keranda yang diselimuti kain sutera kuning bertatah gambar burung elang kepala dua bercakar sembilan, berornamen sulam benang keemasan. Keranda diangkat naik ke kereta kencana yang biasanya hanya untuk para raja. Nirondo keberatan cucunya dibawa pergi, namun bagi prajurit bhayangkari perintah raja harus dipatuhi.

Malam itu sangat terasa mencekam. Ketika kereta pergi menghilang di gelapnya malam, nirondo sepuh jatuh pingsan, jiwanya yang duka pergi entah kemana.

Akuwu hanya terbengong bengong diantara warga dusun Tebupait yang bergerombol. Dia tidak bisa memberikan penjelasan apapun. Akibat sikapnya yang lelet, sang kepala dusun selalu datang terlambat, kejadian berlangsung begitu cepat. Pada catatan pedukuhan di daun lontar, akuwu hanya menuliskan “Ledong dibawa pergi pasukan bhayangkari pada hari ketujuh setelah purnama penuh. Ledong tidak pernah nunggak upeti”.

***

Lembu Bodong II

Gemuruh tadi sore tentu bukan suara “US Air Force One”. Pesawat kepresidenan AS memang mempesona rakyat kami, namun tebaran bunga mawar merah dan putih melati di gerbang kerajaan ini kami gelar untuk kedatangan tuan Patih Pambalah Batung dan rombongan. Karena tuan tuan utusan negeri seberang yang datang hanya dengan perahu layar bertiang satu. Demikian sambutan pembuka tuan rumah oleh Patih Gajah Maya pada pertemuan bilateral Mayapait dengan Negeri Candi Laras. Tercatat bertarih pada 1349 AD.

Itulah fakta yang membuat kami kagum dan bahkan hormat dengan keberanian tuan mengharungi samudera untuk menemukan negeri Mayapait di Tanah Jawi. Kedatangan tuan mengajarkan keberanian, mengajarkan keperwiraan bagi prajurit armada angkatan laut Mayapait. Kami menyampaikan pula salut atas apapun misi yang tuan bawa kepada kerajaan besar kami.

Kedatangan tuan meminta putera raja kami untuk dinikahkan dengan puteri raja tuan di negeri seberang, bagi saya dan juga mahapatih sulit memahaminya. Kami tidak bisa melihat paras wajahnya untuk mengenali ndoro puteri karena tidak dibawa serta bersama rombongan tuan, kami sulit memperimbangkannya. Namun raja kami adalah raja yang bijaksana tidak akan menolak permintaan tuan, beliau setuju memberikan Raden Putera bernama Pangeran Tebupait.

Syaratnya cuma satu, Maharaja kami menitahkan kepada anda semua para utusan dan siapa saja tidak boleh melihat putera raja kami yang sekarang ada dalam keranda ini. Keranda ini hanya boleh dibuka ketika bersanding dipelaminan dengan ndoro puteri raja Negeri Candi Laras.
Apakah kita sepakat?

IV.
Perahu layar bertiang satu dihembus angin buritan, meluncur membelah samudera. Di lazuardi timur awan membentuk gumpalan hitam raksasa dalam tiga balur. Badai hebat pasti mengocok laut hingga berbusa. Nachoda Utama Patih Panimba Segara memerintahkan seluruh awak, prujurit, kadet dan penumpang untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk ditengah samudra. Namun bulan purnama berhasil keluar dari gumpalan awan bahkan mengusirnya jauh ke arah bintang baur bilah di timur laut..

Badai batal menyergap Prabayaksa, peraru layar bertiang satu, bulan purnama menghias langit jernih tanpa awan. Suasana menjadi romantis, akan tetapi hanya berlangsung ketika bintang aras si karantika dikaki horizon barat. Hembusan angin semakin melemah dan lemah. Perahu layar terkatung katung dilautan luas. Keanehan terjadi seperti dongeng misteri perairan Masalembu, perahu layar itu tiba tiba seperti kandas diatas pasir lembut seakan ditepi pantai. Perahu duduk manis ikut menikmati pemandangan bulan purnama yang sedang bercermin dipermukaan air laut.

Pada pagi harinya, bingung dan cemas sangat terlihat diwajah nachoda Panimba Segara dan awak perahu serta seluruh penumpangnya. Ternyata mereka masih ditengah laut dan sangat jauh dari pantai, mengapa pula perahu kandas tanpa sebab? Enam hari sudah terkatung katung dan sekarang adalam malam ketujuh sejak purnama penuh.

V.
Selikur artinya duapuluhsatu, malam ketujuh setelah purnama penuh selalu terdengar tembang si Ledong dengan suara yang teramat merdu.

Tujuh malam sudah purnama pergi.
Hanya tersisa sedikit cahayamu bulan.
Tetapi cukuplah cahyamu membelai jiwaku.
Dalam mimpiku kau kemala di puncak mahkota.

Hanya Patih Pambalah Batung yang paham bahasa Jawi, menyimak dan kagum dengan suara merdu Pangeran Tebupait yang ada dibalik tenda keranda yang diselimuti kain sutera kuning bertatah gambar burung elang kepala dua bercakar sembilan,
Setelah tembang selesai dinyanyikan, suasana kembali sepii dan hening, permukaan laut masih seperti cermin raksasa. Suara baritone Patih Pambalah Batung memecahkan keheningan malam.

Adakah maksud tertentu tuan pangeran dengan tembang indah tadi agar aku dapat memberitahukan kepada seluruh rakyatku di perahu ini. Adakah khasanah pengetahuan yang dapat memerintahkan angin berhembus, agar kami jalankan untuk meneruskan pelayaran ini.

Dongeng menyebutkan bahwa perahu Prabayaksa ternyata kandas di atas kepala naga raksasa bermahkota. Dalam mimpi Ledong perahu Prabayaksa bersinar bagai kemala bertengger diatas mahkota sang naga. Naga Mura Patimaya, penjaga parairan Masalembu meminta korban jiwa salah satu diantara empat patih yang ada di perahu Prabayaksa.
Patih Pambalah Batung, Patih Garuntung Waluh, Patih Panimba Segara dan Patih Garuntung Manau menggelar rapat gabungan, bersama seluruh perwira ditambah Amang Ical, pedagang batu emas yang membiayai seluruh ekspedisi itu.
………
Wuihhh ngantuuuk🙂

***

Lembu Bodong III.

Hirarki jabatan di Kerajaan Negeri Candi Laras menempatkan Patih Pambalah Batung pada urutan pertama. Jabatan setingkat Menko Polhukkam pada Kabinet Indonesia bersatu ke II pemerintahan SBY-Budiono. Kedua, Patih Garuntung Waluh sama dengan Menko Perekonimian. Ketiga, adalah Patih Garuntung Manau, kembaran Menko Kesra.

Sedangkan yang berbeda adalah jabatan keempat. Jabatan Patih Panimba Segara, Menko Perencanaan Pembangunan merangkap Ketua Bappenas, jabatan yang tidak ada pada Kabinet Indonesia Beratu II. Bedanya lagi, di Kerajaan Negeri Candi Laras semua patih harus militer aktif.

Patih Pambalah Batung masuk ruang rapat…….

Rapat gabungan saya buka…bukan untuk menentukan siapa yang akan dikorbankan kepada Naga Mura Patimaya. Karena kalau untuk soal berkorban demi kerajaan, sebagai militer dengan pangkat dan jabatan tertinggi saya tinggal memerintahkan saja. Siapapun yang tidak taat perintah, berdasarkan hukum militer… saya berkewajiban untuk menembaknya.

Lanjut…

Sekarang rapat gabungan ini membicarakan satu pertanyaan untuk ditemukan jawabannya, apakah betul Prabayaksa ini kandas diatas kepala Naga Mura Patimaya seperti dikatakan tuan Pangeran Tebupait.
Semua pemikiran, pandangan dan analisa. kemukakan dan bicara sekarang di forum ini, jika tidak jangan pernah bicara masalah ini sampai kapanpun, berbicara diluar forum ini berarti tidak taat perintah dan anda mengerti resikonya, silahkan.

VI.
Cingil, meskipun cuma pembantu, tukang bersih bersih kamar nachoda utama Patih Panimba Segara, meski bukan prajurit, namun dalam hal kemampuan berenang dan menyelam dialah jagonya. Ketika nackhoda masuk kamarnya, Cingil sedang mengepel lantai.

Cingil duduklah dan dengarkan baik baik… Patih Panimba Segara agak ragu untuk menyampaikan maksudnya.

Hamba siap tuan nachoda

Siap apa maksudnya, kamu belum dengar apa yang saya katakan.

Hamba siap melaksanakan perintah tuan nachoda.

Itulah…kamu bukan anggota militer, kamu belum tahu perintah apa yang akan kamu terima tapi kamu sudah menyatakan siap melaksanakan perintah.

Maaf tuan, hamba minta maaf kalau hamba salah bicara…

Kamu tidak salah…sekarang saya mendengarkan apa yang ingin kamu katakan…bicaralah… teruskan.

Cingil terdiam sesaat….

Tuan nakhoda mengemban tugas dan tanggung jawab atas pelayaran ini. Sekarang Prabayaksa kandas tanpa sebab yang jelas. Hamba memikul tanggung jawab membantu tuan nakhoda dan hamba paham segala resikonya, maafkan hamba tuan nakhoda.

Bagi Cingil, kesetiaan kepada Patih Panimba Segara adalah cara menunjukan rasa hormatnya. Dia hanya mengerti bahwa hanya tuannya yang mau mendengarkan dia. Cingil merasa terhormat bisa menjadi pembantu nakhoda. Prinsip kesetiaan itulah yang mendorong dia siap melaksanakan segala perintah nakhoda meski harus korbankan jiwanya.

Lembu Bodong IV.

Byurbruss………….byurbreess…….

Cingil terjun ke laut dan pada saat bersamaan dia melemparkan batu pemberat yang terikat tali, sebagai alat duga kedalaman laut. Dua ‘benda’ yang jatuh bersamaan kepermukaan laut menimbulkan dua pusat gelombang, Ketika dua gelombang bertemu, menampakkan struktur interferensi. Wujud interferensi itu dapat terlihat dengan jelas dari perahu layar bertiang satu Prabayaksa. Sedemikian tenangnya permukaan laut laksana cermin raksasa diliputi suasana magis kesaktian Naga Mura Patimaya.

VII.
Struktur interferensi gelombang yang tergambar di permukaan laut membuat keempat Patih dan semua orang yang diatas dek terkagum kagum namun segera berubah menjadi kecemasan dan suasana tegang. Sudah dua batang rokok kretek lintingan terbakar habis, Cingil belum juga muncul kepermukaan.
Ketegangan semakin nyata ketika dalam posisi berhadapan, sorot tajam mata Patih Pambalah Batung menancap ke batang hidung nakhoda utama Patih Panimba Segara. Setengah membentak dan keras nada bicaranya:

Pembantu pribadimu menceburkan diri kelaut, anda yang memerintah dia ? Tentu dia mati sia sia dimakan Naga Mura Patimaya. Semestinya anda sudah paham bahwa tidak ada korban sesiapapun, kecuali dengan perintahku Patih Pembalah Batung. Anda menetang kebijaksanaanku saudara nakhoda.

Belum sempat bibir berucap, Patih Panimba Segara melihat gerakan tangan Patih Pambalah Batung kearah gagang pistol bersalut perak yang terselip disisi kiri perut gendutnya. Melihat gelagat yang bermusuhan itu, Patih Panimba Segara juga siap dengan pisau lempar bergerigi seperti pisau Rambo.

Pada perhitungan saya, jika terjadi duel bersenjata antar kedua patih itu, Patih Panimba Segara akan lebih unggul. Tangan kiri dan kanannya sama cepat dan sangat trampil dalam melempar pisau hanya dalam satu gerakan. Tangan kanan mengarahkan lemparan pisai Rambo ke mata, sementara tangan kiri mengarah ke urat nadi leher dibawah rahang lawannya. Kedua tangan Patih Panimba Segara, saling dukung menghasilkan serangan mematikan.

Sebaliknya meskipun Patih Pambalah Batung ahli dengan pistolnya, namun dia membutuhkan tiga gerakan. Pertama menarik pistol dari pinggangnya, Gerakan kedua merentang lengan untuk membidik dan setelah bidikan tepat ke jantung lawan barulah jarinya menarik trigger pistol bergagang lapis perak itu. Ketika lemparan pisau Patih Panimba Segara mengarah ke matanya, tentulah dia bergerak menggeleng ke kiri atau ke kanan. Gerakan mengeleng itu berarti dia tidak bisa membidik, sedangkan temponya hanya dalam sepersekian detik saja. Patih Pembalah Batung akan roboh dengan urat nadi leher terpotong pisau Patih Penimba Segara.

VIII.

Beruntunglah kedua patih yang lainnya bergerak cepat menutup ruang diantara mereka. Patih Garuntung Waluh ke depan Patih Pambalah Batung. Sedangkan Patih Garuntung Manau ke depan Patih Panimba Segara. Sepertinya mereka melerai pertikaian itu, tetapi jelas pula bahwa keduanya sebenarnya berpihak satu sama lain.

Saudara Patih Garuntung Manau, saya perintahkan anda berdiri dibelakang saya, jika tidak berarti anda berkomplot dengan Panimba Segara untuk menentang saya.

Patih Garuntung Manau terkesiap dan akan bereaksi, karena mendapatkan dirinya langsung dibawah ancaman Patih Pambalah Batung.
Pada detik detik sangat berbahaya itu, tiba tida terdengar teriakan suara berat dan sangat tegas;

Jenderal !!!….

Semua yang ada di geladak tersentak dari suasana tegang tak terkecuali keempat patih tadi.

…………kalian tidak memberikan teladan perilaku pemimpin nan perwira, seharusnya kita bersatu menghadapi musibah ini, tapi sebaliknya kalian bertengkar. Kalian pemimpin yang memalukan, bukannya berembuk tapi malah bertengkar.

Suara siapakah gerangan yang mampu menghentikan situasi kritis antara jenderal diatas geladak Prabayaksa. Mereka tidak menoleh ke sosok pembicara karena terlalu kenal dengan pemilik suara itu. Semuanya diam bagai waktu yang terhenti…..

***

 

Lembu Bodong V.

IX.
Bersepatu lancip model tokoh Sindbad The Sailor dari negeri dongen 1001 malam, Amang Ical muncul di anjungan nakhoda dengan baju kuning padu dengan overcoat berwarna biru demokrat, bahannya kain bludru dari Smyrna. Pasti harganya mahal karena produk impor dari Turki.
Sebagai saudagar kaya raya wajarlah Amang Ical berbusana mewah. Meskipun hanya warga sipil, kekayaan dan kemewahan tampilannya mendukung aura wibawa pribadi Amang Ical.

Keempat patih yang berpangkat jenderal sekalipun nampak sekali segan kepadanya. Terbukti, bentakannya tadi membuat pejabat yang nyaris baku bunuh berhenti seketika. Semuanya terhipnotis, semua yang ada digeladak perahu layar bertiang satu Prabayaksa terdiam.
Belum sempat Amang Ical melanjutkan bicaranya tiba tiba seperti seekor ikan besar loncat dari laut masuk ke kapal….blukkk klepekk….terdampar di geladak.

Ohhh……… bukan ikan besar loncat masuk kapal tetapi ternyata Cingil si pelayan nakhoda Patih Penimba Segara yang dikira mati sia sia ditelan Naga Mura Patimaya.

Glekkk glekkk bruaak huk gruak…… si Cingil memuntahkan sembilan cumi cumi gelepar gelepur.
Sret sret sret… cumi cumi menyemprotkan ‘tinta’ sebelum sembilan cumi cumi itu meloncat kelaut kembali kehabitatnya. Anehnya, cairan hitam yang ditinggalkan cumi cumi di lantai geladak Prabayaksa tertulis pesan ;

Kalian tidak amanah, kalian sudah bersepakat dengan Maharaja Mayapait untuk tidak melihat wujud Pangeran Tebupait yang ada di keranda, tapi kalian tidak kommit dengan janji sendiri. Prabayaksa kandas karena aku ingin menguji kejujuran kalian. Tertanda Naga Mura Patimaya.

Ha aha ha ha ha ha ha ha ha ……suara tertawa sinis Naga Mura Patimaya seakan terus bergaung, terngiang hingga malam gelap gulita.

Seiring dengan hilangnya suara gaib itu, datang angin badai dan hujan sangat kuat, gelombang bergulung gulung. Perahu layar bertiang satu Prabayaksa terlempar diantara puncak gelombang, diangkat dibanting, dibanting dan dibanting lagi…

X.

Nelayan teluk Tabuneo saling panggil ouiiy…. Ouiiy ada kapaaal !!!. Meski belum singkap siang, pandangan kelaut cukup terang pada subuh itu. Mereka bergegas ke laut ingin mengetahui siapa yang datang. Semakin mendekat semakin nyata bentuk dan rupa tall ship Prabayaksa.

Mereka kecele, ternyata kapal tidak lego jangkar tapi bergerak menjauh ke utara memasuki perairan muara Sungai Barito, hingga menghilang dari pandangan. Prabayaksa bergerak sendiri, tidak terlihat ada awak kapal di geladak. berlayar seperti kapal hantu, hanya tiang tinggi menjulang tanpa layar terkembang.

Amang Ical yang pertama bangun dari pingsannya, sadar bahwa Prabayaksa selamat tidak tenggelam diamuk badai. Dia merangkak kearah nakhoda yang tergeletak dua depa darinya. Ketika Nakhoda Utama Patih Panimba Segara tersadar, si Cingil yang pertama dicarinya lalu dia memeriksa seluruh awak dan penumpang dan membangunkannya, menghitung apakah ada yang hilang terlempar kelaut.

Ketika mendapatkan Patih Pambalah Batung ternyata juga selamat. Mereka berdua berpelukan dia memeluknya erat dan lama, meskipun kemaren sore mereka berseteru dan nyaris baku bunuh. Perahu memang berantakan tetapi semua ABK, prajurit, hulubalang, dan seluruh penumpang semuanya selamat.

Feeling sang nakhoda merasa seperti ada yang hilang, seharusnya masih ada seorang lagi. pikirnya. Padahal sudah dihitung berulang ulang. “semua sudah dihitung tuan tidak ada yang hilang”. lapor perwira pertama.

Saya sebenarnya ingin sekali mengatakan kepada mereka, tapi tidak mungkin bisa. Bahwa yang hilang adalah sang pangeran dalam keranda yaitu Pangeran Tebupait. Pangeran yang nama kecilnya si Lembu Bodong alias si Ledong, sang calon suami Puteri Laras Tunjung Sari, lenyap bersama kerandanya, hilang ditelan badai….gone with the wind….

Bersambung…….

2 Tanggapan to "Lembu Bodong"

Assalaamu’alaikum wr.wb, Syamjr…

Salam kenal dan terima kasih udah berkunjung ke blog saya.
Blognya penuh dengan informasi yang bisa bermanfaat untuk semua.

Salam ukhuwwah.

@ http://webctfatimah.wordpress.com/
Wa’alaikumsalam. Terima kasih puan sudah berkenan datang ke tungkaran kami.
Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengantar

Blog ini dibuat pada 15 Maret 2008 untuk menuliskan fikiran dan pandangan guna memahami orang lain melalui feed back atau tanggapan atas pemikiran yang tertulis, terutama pemikiran dari generasi muda yang sedang memainkan perannya diatas lantai kehidupan berbangsa di republik ini. About Me

Since March 15, 2008.

  • 190,888 hits

Pagerank Checker

Page Rank Check
Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Guest IP

IP

Visitors Map

Blog Indonesia

Blogger Indonesia

Current Moon

CURRENT MOON

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip

Syam Jr

Desember 2016
S S R K J S M
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d blogger menyukai ini: